kawan-kawan lama yang sekarang mengiringi langkahku ke pintu kafe tak henti-hentinya meyerocos, mengakibatkan tawa pecah di antara kami. tak dapat dipungkiri, pertemuan ini adalah yang kesekian kalinya (meski dapat dihitumg jari) dan pada tiap janjinya selalu bermakna. terutama setelah aku bertemu dia. dia yang diam seribu bahasa, tapi matanya berbicara sebanyak bintang di sisi rembulan, cemerlang pun sangat menawan.
kami baru berhenti tertawa usai pramusaji menawarkan beberapa kertas menu. disodorkannya lima lembar untuk masing-masing dari kami.
“paket 4, kak.” ujarku singkat.
“samain aja, mbak,” imbuh si A yang diikuti 3 orang lainnya.
sang pramusaji mengindahkan lantas undur diri. beberap menit kemudian pramusaji itu datang lagi dengan membawa seporsi makanan pada kami. aku mengenyritkan dahi heran, ‘cepet banget.’
namun langkahnya terhenti pada meja di seberang. seorang perempuan berpita putih dengan rambut hitam sepundak tersenyum sebagai ucapan terima kasih pada pekerja itu.
senyumnya hangat, melekuk indah pada pipinya yang tembam. menggemaskan. mata itu hitam legam dan menciptakan pesona binarnya. ia tak berkacamata, namun buku dan laptop di sebelahnya mengatakan kalau ia wanita cerdas. perempuan yang pas dikatakan sebagai guru dari anak-anakku kelak. yah, semoga saja ia sevisioner diriku.
pada detik kedelapan aku menatapnya, ‘aduh’ mata kami bertaut! sontak kutplehkan kepala pada temanku yang ada di kananku. aku malah disambut oleh tatapan nakal dari empat orang di meja ini.
“betah ya, bro?”
“gas ga nih?”
dan senyum tak dapat kukuasai untuk bersembunyi. jika digambarkan pada film animasi disney, mungkin seluruh mukaku sudah seperti tomat merah. baiklah, aku menyerah.
dia terlalu cantik. semoga kelak aku dapat mengatakannya dengan lembut di dalam pelukan kami. akan kuusap kepalanya yang mungkin hanya setinggi daguku dan berkata, “terima kasih sudah ada, sayang.”
—Jumat, 29 April 2022 pukul 08.45