Saturday, April 30, 2022

tanya

what i listened to while i read this

mengapa 

apa tidak ada bagaimana saja?

daripada harus menjelaskan alasannya

aku lebih suka memulainya

kita nikmati saja dulu

semua. semua 


kita akan membuat apa

menjadi siapa

bersama menitih saat kapan

serta di mana, menjadi lebih berarti

tanpa memikirkan mengapa


aku tak butuh mengapa

sekali lagi, yang kumau hanya bertanya bagaimana

bagaimana kita yang awalnya bukan siapa-siapa

bagaimana kita saat ini selalu bertanya kapan dan di mana untuk sebuah pertemuan

bagaimana kita esok akan menjadi jawaban dari semua tanya


mengapa? karena kamu.




 —Sabtu, 30 April 2022 pukul 10.15

Friday, April 29, 2022

karsa

what i listened to while i read this

Pada seribu bintang aku berteduh

Dingin, atau hanya sejuk?

Tak berarti.  Tanpamu semuanya semu

Kemari, hatimu adalah petaku

Kemari, aku mau kamu


***


Balok ini mengunci diri

Namun dengan jiwaku

Gulitanya tak terendus

Melainkan jutaan bunga merekah

Rasaku raksasa, semakin nyata, karenanya


***


Haruskah aku

Jembatan ini seperti tak kan seidkitpun kokoh

Tanganku jugalah masih lunglai 

karena masa lalu yang belum usai

Bisakah kau mendengarnya?


***


Bagaimana, harus apa

Kukira kamu adalah kupu-kupuku

dan akulah si Spongebob

Sang ahli dari yang paling ahli

Tapi aku menciut. Kamu terlalu, sangat, entahlah


***


Kita punya karsa untuk:

Merajut asa

Mengadu rasa

Berharap bisa

Bercinta tanpa paksa


Tapi tak pernah berani untuk memberi sapa.

Selamat tinggal katakanlah.

Sama-sama.




—Jumat, 29 April 2022 pukul 20.13

sempurna



kawan-kawan lama yang sekarang mengiringi langkahku ke pintu kafe tak henti-hentinya meyerocos, mengakibatkan tawa pecah di antara kami. tak dapat dipungkiri, pertemuan ini adalah yang kesekian kalinya (meski dapat dihitumg jari) dan pada tiap janjinya selalu bermakna. terutama setelah aku bertemu dia. dia yang diam seribu bahasa, tapi matanya berbicara sebanyak bintang di sisi rembulan, cemerlang pun sangat menawan. 


kami baru berhenti tertawa usai pramusaji menawarkan beberapa kertas menu. disodorkannya lima lembar untuk masing-masing dari kami.


“paket 4, kak.” ujarku singkat. 


“samain aja, mbak,” imbuh si A yang diikuti 3 orang lainnya. 


sang pramusaji mengindahkan lantas undur diri. beberap menit kemudian pramusaji itu datang lagi dengan membawa seporsi makanan pada kami. aku mengenyritkan dahi heran, ‘cepet banget.’


namun langkahnya terhenti pada meja di seberang. seorang perempuan berpita putih dengan rambut hitam sepundak tersenyum sebagai ucapan terima kasih pada pekerja itu. 


senyumnya hangat, melekuk indah pada pipinya yang tembam. menggemaskan. mata itu hitam legam dan menciptakan pesona binarnya. ia tak berkacamata, namun buku dan laptop di sebelahnya mengatakan kalau ia wanita cerdas. perempuan yang pas dikatakan sebagai guru dari anak-anakku kelak. yah, semoga saja ia sevisioner diriku. 


pada detik kedelapan aku menatapnya, ‘aduh’ mata kami bertaut! sontak kutplehkan kepala pada temanku yang ada di kananku. aku malah disambut oleh tatapan nakal dari empat orang di meja ini. 


“betah ya, bro?”


“gas ga nih?”


dan senyum tak dapat kukuasai untuk bersembunyi. jika digambarkan pada film animasi disney, mungkin seluruh mukaku sudah seperti tomat merah. baiklah, aku menyerah. 


dia terlalu cantik. semoga kelak aku dapat mengatakannya dengan lembut di dalam pelukan kami. akan kuusap kepalanya yang mungkin hanya setinggi daguku dan berkata, “terima kasih sudah ada, sayang.” 




 —Jumat, 29 April 2022 pukul 08.45


Wednesday, April 27, 2022

paripurna

what i listened to while i read this

kurebahkan tubuh mengikuti lekukan kursi ini. kekosongan masih nyaman menetap dalam dada di antara padatnya suasana menjelang berbuka. pramusaji hilir mudik menghidupkan kafe, persis seperti yang ada pada gim adik sepupuku dan gim masa kecilku dulu. kalau tak salah namanya dinner dash. sudahlah, ini tak penting karena sebentar lagi tokoh utamanya akan datang.


pukul enam kurang empat lima kudengar suara tawa yang tak lagi asing di telingaku. tetap berusaha menguasai suasana, aku memutar tubuh 180 derajat untuk menghadap pada empunya. itu dia. datang menyanding senyum yang ia tebar secara cuma-cuma, yang kuharap suatu saat dapat ia persembahkan spesial kepadaku. entah, aku hanya berharap, tapi tak juga bersemangat. maksudku, kalian tahu, kan, perihal masa laluku? ya begitulah.


semenit kemudian ia sudah membenamkan diri pada kursi di seberang. meski jarak yang terbentang hanya 2 meter, rasanya aku sudah sejauh dasaran palung mariana dengan gunung everest. inginku meminjam invisible cloak lantas pergi ke kursi sebelahnya yang terbengkalai tanpa penghuni, dan dengan puas menatapnya tanpa henti. rambutnya yang lurus itu ia biarkan tak karuan di atas dahinya, panjang, hampir seperti cap topi. sesekali ia berbicara dengan temannya dan tertawa. senyumnya? ah jika kalian merasakan menjadi diriku, kusarankan kalian untuk menyiapkan diri sebelum menyublim. perawakannya yang tinggi semampai seolah siap untuk selalu menjadi pelindungmu dari kesedihan, ditambah dengan bidangnya bahu itu yang kokoh menjagamu dalam hangatnya dekapan tulusnya.


selain rupanya yang paripurna, aku tak tahu menahu tentang dirinya. hanya kupahami bahwa dulu kami saling kenal dan pernah, mungkin jarang-jarang, menyapa sebagai kolega pada satu sekolah. 


“permisi, kak, benar pesanannya paket 4 dengan tambahan es krim sebagai makanan penutup?”


hadirnya mbak pramusaji di depanku membuyarkan angan. 


“iya, kak. benar.” 


beberapa sajian yang dikatakannya sebagai paket 4 mendarat mulus dan siap santap pada meja. tapi laparku tidaklah pada makanan, melainkan perhatian darinya seorang.




—Rabu, 27 April 2022 pukul 20.25

Sunday, April 24, 2022

kosong

what i listened to while i read this

aku membatu pada mading yang melekat pada dinding. mading itu kosong. pun pikiranku. 


jam yang melingkar pada tangan kananku tak berhenti juga menjalankan roda giginya. detik berdetak. menit bercicit pada kali keenam puluh detik. pada senyap mataku mngerjap agar lamun segera menguap. seisi koridor ramai tapi tidak dengna pikiranku.


kosong melompong. tak ada pelangi usai badai. mereka berbohong. 


sekarang aku menulis pada catatan cepat pukul enam lebih empat empat. tak ada yang menarik. itu hanyalah bualan.


sepertinya cukup. terima kasih atas sedekah waktumu pada tulisan tak tentu ini.




—Minggu, 24 April 2022 pukul 18.43

Sunday, April 10, 2022

tak terkira atau tak ada?

what i listened to while i read this

aku mungkin tak memiliki seorang pun untuk diucapkan selamat malam, atau sekadar berkabar “sudah makan?” tapi bersamanya rasanya topik atas amukan austria-hungaria pada serbia terlihat lebih menarik daripada godaan sayang dari sang pujaan. ia tak lebih dan tak kurang untuk dikategorikan sebagai pendamping hidupku, sahabat, juga-


aduh, rasanya aku mati rasa. tak ada lagi bunga-bugna di dalam dada tiap kali kuingat dia.


sudahlah. kembalikan konsentrasimu pada tugas di antara jajaran notifikasi layar genggam. jangan lupa esok ada ekspektasi orang tersayang yang harus kau indahkan. atau setidaknya, berbuatlah yang berfaedah. jangan hiraukan yang menghentikanmu di tengah jalan. karena yang tepat adalah yang akan selalui ada sejak pembuka hingga akhiran. 




—Minggu, 10 April 2022 pukul 21.25

aku


“kamu cantik.” 


kutelengkan kepalaku untuk benar-benar dapat memahami apa yang ia katakan.


ialah pria yang kulihat penampilannya pada pagelaran musik semalam. kami tak pernah berjabat tangan atau bahkan saling mengetahui sebelumnya. ia pun sebelumnya berkata kalau mengenalku dari salah satu kawannya. 


aku menatapnya heran dan berkata, “salam kenal.”


karena aku tak tahu harus berkata apa lagi, aku berpamitan. sebelum aku sempat melangkah, bibir tipisnya mengucap salam. 


“wa’alaikumussalam.” jawabku singkat. ‘memang sedikit aneh. tapi kurasa tak apa.


***


kepalaku tertanam pada buku di hadapan. baru tercabut setelah seorang dari teman sekelasku menaruh satu kotak susu pada sisi kanan meja. “titipan dari si itu.”


kuanggukkan kepalaku dua kali lantas kusapukan pandanganku pada isi kelas. kutangkap ia tengah menatapku melalui celah pintu kelas yang terbuka sebesar 10 cm. saat tanganku hendak melambai, gerakan larinya dari pandanganku membuatku terkejut dan mengurungkan niat. aku tersenyum kemudian. 


***


kami biasanya akan saling sapa di antara pukul lima. hal itu dikarenakan kegiatan kami yang berjadwal sama. tapi hari ini tak kulihat sedetik pun batang hidungnya. tapi tak apa, kurasa sehari bertemu juga bukan masalah.


***


baiklah, sifat anehnya kali ini tak dapat dimaklumkan. ‘ke mana perginya ia?’


***

esoknya kami bertemu tapi dan ada lagi ragu dalam diriku. ia dikabarkan telah berubah. dan kami saling paham. maka aku pun mengikuti skenarionya. lagi-lagi apa yang belum dimulai telah selesai. dan takkan pernah lagi untuk membuka hati. terima kasih.




—Minggu, 10 April 2022 pukul 21.12

Thursday, April 7, 2022

sempat

what i listened to while i read this

kami bercengkrama asyik pada salah satu aplikasi berbalas pesan. alkisah tembok besar cina yang didirikan berabad-abad lalu, sepanjang itulah gelaran balon ucapan kami jika dihitung sejak kami berkenalan tahun lalu. tak ada yang salah di sini. hanya aku dan dia. dan juga orang-orang yang terkadang berlalu menjadi bahan perbincangan kami. dan juga beberapa lagi yang kadang berkaitan dengan kami namun tak pernah sedetik pun kami ucap namanya, malahan dihindari. “berbahaya.”


tak kurasai laiknya sawi hijau pada kebun sekolah yang tumbuh subur, sepertinya ada pula yang menyamainya. tumbuh di antara pesan “hehe” penutup percakapan malam itu. dan juga “hehe” lainnya yang kubalas cepat meski tanpa ada maksud tersirat.


tak ada yang salah di antara kami. aku yang membawa segenggam luka dan ia sang tamu yang rupanya berharap dapat mejadi penyembuhku. “namun sepertinya luka ini telah sampai pada titik sekarat, bro.” ujarku lirih meski sapaan nyaman masih terberikan.



ia tak membalas meski sebuah aksara. tapi ia tersenyum. tangan yang dipergunakan sebagai penyangga pada dagunya ia letakkan kemudian, dan ia kembali berjibaku dengan dunianya. tenang namun penuh kejutan. itulah yang dapat kuberikan usai hampir kuterima ajakannya. tadinya aku sudah berada pada telinga pintu. “sini.” ajaknya.


***


tawaku menyamai riuhnya lautan manusai pada pagelaran musik malam ini. dapat kulihat ia menatapku pada meja di ujung ruangan. sekali lagi kami hanya saling memberi senyum. dengan jelas kukatakan, “terima kash,” dalam hati.




—Kamis, 7 April 2022 pukul 20.02

Tuesday, April 5, 2022

sabar

what i listened to while i read this



debur ombak menyiratkan sejumput airnya

asin kristal sedikit tertanam pada wajahku yang langsung berhadapan dengan samudra

jingga siluet horizontal menemani kesendirian ini

aku tertanam nyaman pada pinggiran mulut pantai

sesekali tangnku meraih segenggam pasir putih di sebelahku

lantas kulempar jauh, yang berujung tak jauh dari perginya ia dari pikiranku

beberapa kali kulakukan hal yang sama, hasilnya pun persis

padahal aku tahu

seharusnya aku yang pergi dari tempat ini

aku tidak akan pernah bisa mengusir pasir dari pantainya

memang di sinilah ia singgah

kenapa aku masih bertahan jika melihatnya saja sudah buat mual?

telanjur nyaman, atau terlampau nyaman?

memang tidak mudah, tapi cobalah

kita tidak akan tahu, barangkali, besok akan ada yang menjemputmu

meraih tanganmu lembut sembari mengajakmu untuk beranjak 

menuju keabadian. penuh akan hal yang tak akan tergantikan

tenang, ia akan datang

kamu hanya perlu bersabar



—Rabu, 1 Desember 2021 pukul 20.46 

aku adalah peran figuran

what i listened to while i read this panggilan sayang pegangan tangan perhatian rasa aman dan nyaman berbagi es krim kesukaan berteman bisa ...