Monday, October 31, 2022

oke

what i listened to while i read this

aku percaya pada karma. karenanya, aku tidak pernah berani untuk mempersilakan siapa pun memasuki hatiku karena aku tahu, suatu saat mereka akan melewati pintu itu untuk keluar dan pergi. barangkali tidak akan kembali. 


tapi kali ini, mari kita coba.



kuperkenalkan padamu, “gua dari kelas sebelah. temennya itu.” katanya sambil menjabat tanganku sekaligus melirik tetanggaku yang juga merupakan teman sekolahku.


kepalaku naik-turun bersamaan dengan jabatan tangan kami.


ia masih terus menatapku. sekarang aku mulai sadar dan melepaskan tangannya. senyumnya tersungging sebelah usai kubuang pandanganku ke sisi lain kelas ini. dapat kulihat beberapa orang bergerombol di dekat pintu kelas, saling mengadu hipotesis tentang masalah yang tengah seksi menjadi perhatian seluruh orang—atau setidaknya bagi mereka yang mengenal diriku.


“aku suka sama kamu.”


dari jauh kudengar samar-samar pekikan dan suara yang menyatakan pernyataan terkejut atau senang karena dugaannya benar.


ya, aku mendapat pernyataan cinta pertamaku, di depan seisi kelas, dinyatakan secara langsung tanpa babibu fafifu satset dasdes atau apalah istilah yang dapat meyatakan bahwa hal itu terjadi sepersekian detik sebelum aku menyadari bahwa aku telah megatakan “oke.” walau sebenarnya aku juga tidak tahu apa maksud dari oke di sini. apakah aku menerima pernyataannya sebagai sekadar apreasiasi atas eksistensiku yang ternyata cukup berharga atau aku menerimanya untuk memasuki kehidupanku dan mempersilakannya untuk mengobrak-abrik perasaanku yang akan tak karuan terutama aku tahu bahwa dia telah menyimpan perasaan tersebut sejak berabad-abad lalu yang mana itu adalah rambu bahaya karena ia akna siap untuk memborbardir diriku dengan bom cinta dan,


“SIAL AKU BELUM SIAP UNTUK INI.”


ujarku tak sabaran pada pria yang kini tengah menyeruput mie ayamnya di meja panjang warung bakso malang sebelahku. dan ya, sekali lagi, seisi warung seketika menghentikan segala kegiatannya untuk bertanya-tanya apa kiranya yang membuat gadis berpakaian sma ini pantas untuk dimasukkan ke rumah sakit jiwa karena sedari tadi tampak gelisah laiknya orang berkebutuhan khusus depresi ringan. 


“kan gua dah bilang,” ia beralih pada es teh di tangan kanannya. jari telunjuk dibantu sang ibu jari meraih sedotan putih tipis yang tidak ramah lingkungan untuk diarahkannya ke bibir. dua teguk masuk dan ia melanjutkan, “makanya, dipikirin dulu dari awal. jangan main ‘oke’ aja lu.”


“lah mana kutahu kalau oke yang aku bilang itu artinya iya atau nggak.”


“lah orang elu sendiri yang bilang kok elu sendiri yang bingung.” tangannya yang berbekas minyak ia usap-usapkan pada kemeja putih seragamnya. “jadi ini salah gue? salah temen-temen gue?” katanya sambil menirukan gestur lakon cinta pada film lama ada apa dengan cinta.


aku mengikuti skrenarionya, “yang lo lakuin ke gue itu jahat.” 


bahunya yang bidang sekrang telah menghadap padaku meski kepalanya masih tertaut pada perbincangan dengan ibu warung bakso amlang untuk melunasi tagihan makan kami. dua menit kemudian urusannya selesai dan ia menatapku lurus. ia akhirnya berbicara serius. 


“kalau kamu nggak mau, harusnya kamu bilang sejak awal.” helaan napas menghentikannya sejenak. “sekarang sudah sejauh ini, kamu maunya gimana?”


ketika ia mengganti sapaan menjadi aku-kamu dariapda gue-elo, itu artinya ia benar-benar mengatakan hal yang perlu aku pahami karena dengna sapaan itulah aku biasanya berbicara.


“ya sudah. ya gitu deh.”


sebuah toyoran pelan mengarah persis ke pelipisku diiringi tawa kecilnya. “dasar bocil. nggak ngerti apa-apa kok udah mau punya pacar aja.”


“belum.”


“oh, jadi mau punya pacar?”


“nggak mau.”


“ya seharusnya kamu bilang ‘nggak punya pacar’ bukannya ‘belum punya pacar’ dong.”


aku meliriknya sinis. “terserah deh.”


dan lima hari setelahnya aku telah terserang virus budak cinta yang mana membuatku merasa seolah-olah ia selalu mengikutiku dan setiap kali aku menyapukan pandangan untuk memastikan firasatku salah, sayangnya, aku menemukannya dengan manik mata cokelat indah itu. oh, lihat, aku sudah membubuhkan kata indah padahal aku sendiri jarang menatap matanya. ya, terakhir, sih, kemarin sore, waktu kami janjian di kantin. ya, setidaknya hari ini belum. bukan belum, tapi tidak, maksudnya.


ah, terserah deh.




—Senin, 31 Oktober 2022 pukul 23.44

Monday, October 24, 2022

cuitan

what i listened to while i read this

dipendam kok ya bukan tanaman yang bisa berbunga. kalau pun berbunga keknya bunga bangkai deh ntar keluarnya. kasihan dong nanti orang-orang yang tau. minimal gak nyusahin lah.


what i listened to while i read this

udah kadaluwarsa tapi masih kerasa;


what i listened to while i read this

hey, aku membaca statusmu. kamu tidak apa-apa?”


“yah,” kedua tangan kurentangkan—seperti menampakkan diri apa adanya, “seperti yang kamu lihat.”


what i listened to while i read this

matanya menatapku iba. perlahan ia mendekatiku dan mengalungkan kedua lengannya pada diri yang tengah rapuh-rapuhnya. 


tangisku pecah dalam dekapannya.





“makasih. aku gapapa, kok.”




—Senin, 24 Oktober 2022 pukul 21.56

Friday, October 21, 2022

(may) i write u

what i listened to while i read this

“i mean, i write about you,” ujarku malu-malu. dalam hatiku berkembang harapan akan antusias yang ia hadirkan sebagai jawaban. 


ia ber-oh panjang. 


ya, hanya, “oooh.”


“nggak ada keperluan lagi, kan?” aku menunduk kecewa. pupus sudah anganku untuk mendapat sambutan hangat atas manifestasi rasa sayangku padanya. “ya sudah, aku pergi dulu, ya. ada janji.”


sebelum tubuhku berbalik 180’ penuh, ia meraih jemari kananku dan menggenggamnya erat—jaga-jaga mana tahu aku akan lari dari jangkauannya. aku menatapnya masygul meski dengan mimik wajah yang dibuat-buat tenang. mataku yang bulat sekarang berada sejengkal jaraknya dari senyum simpul itu. tangan kosong satunya pun ikut berhomolog pada tanganku yang lain.


kami hanya diam sambil masih bergandengan tangan, dan saling tatap. 


“aku harus beralasan apa dengan klienku nanti jika aku terlambat datang? ada keperluan negara untuk mengapresiasi ciptaan Tuhan yang tiada tara indahnya?” ujarku beberapa detik kemudian.


semerah sambal uleg wedangan bu etik, pipinya ikut menggembung dengan senyum yang semakin merekah. aku tidak tahu apa maksudnya menahanku seperti ini. aku kesal, tapi aku juga menikmatinya. setiap nanodetik bersamanya bukanlah tidak berarti melainkan hal yang sangat aku syukuri. 


barangkali aku boleh request kepada Tuhan, banyak hal yang ingin aku koreksi dari kehadirannya. tapi dengan berdirinya ia sekarang, seolah semua angan itu ikut berlalu bersama angin yang membawa kesejukan taman di sore ini. 


“dengan atau tanpa tulisanmu, aku tidak bisa lagi berkata-kata atas kenikmatan yang selalu ada ketika aku bersamamu,” tatapannya lurus padaku. “maaf ya, sayang.”


kuanggukkan kepala sambil terkekeh kecil. ‘alasan klasik bagi mereka yang tidak mengerti sastra dan hanya peduli pada penelitian penuh hipotesis dan percobaan yang menghasilkan dasar hukum mutlak dan dipuja seluruh umat sampai suatu saat ada nabi baru dari sebuah formula. sangat berkebalikan denganku. tapi itulah yang membuatku selalu gemas ingin mengajaknya lebih jauh berlayar menyusuri tiap sudut dunia ini. mungkin inilah yang dikatakan hitam dan putih, kanan dan kiri, utara dan selatan. kami tidak akan bisa benar-benar menyatu, tapi kami akan terus berjalan berdampingan, saling melengkapi.’


“ya, ya. dimaafkan."



—Jumat, 21 Oktober 2022 pukul 10.23

aku adalah peran figuran

what i listened to while i read this panggilan sayang pegangan tangan perhatian rasa aman dan nyaman berbagi es krim kesukaan berteman bisa ...