Thursday, February 15, 2024

bernada

what i listened to while i read this


sekarang, tiap kali aku mendengarkan merdu suara dere dimainkan dari gawai atau pun MacBook, hadirmulah yang secara tiba-tiba muncul di kepala. beberapa sajak perpisahan dan kenangan juga menautkan diri pada sosokmu, seolah-olah kamulah sumber idenya. salahku, sih, sepertinya, keadaan jadi begini. seharusnya begitu dan tidak seperti ini, kan? tapi, ya, mau bagimana lagi.


bingung, ya? sama, kok, aku juga bingung. 


sebenarnya, apa, sih, yang aku pikirkan? apa yang aku harapkan waktu itu? masa depan apa yang aku sedang perjuangkan? banyak. jawabannya ada banyak dan bisa jadi esai 3000 kata untuk menjabarkannya. namun, kamu tidak perlu tahu semua. tidak penting. 


kembali ke pertanyaan tadi. aku tak henti-hentinya bertanya hingga seseorang hinggap di kursi depan mejaku dan menjentikkan jarinya. netra yang sudah berada sepuluh centimeter di depannya mengerjap cepat—mengembalikanku ke dunia nyata. 


“mikirin apa, sih, sampai melamun kayak gitu?” tanya pria berkacamata itu, orang yang sama yang membuatku terkejut lima detik lalu.


aku mengalihkan pandangan ke layar di depan sambil menaruh daguku ke kepalan tangan yang siap menyangga, berharap gelagatku untuk menutupi overthinking dapat tertutupi dengan sempurna. 


“masih sedih karena dia?” kata terakhir itu ia beri penekanan dan jawabannya adalah sebuah anggukan lemas.


akan kuceritakan, siapakah dia yang saat ini tengah sama-sama ada di benak kami.


***


waktu itu adalah hari keempat bulan desember. satu hari penuh aku habiskan bersama anak-anak sekolah dasar yang tergabung dalam projek sosial. digagas oleh aku dan empat teman lainnya, projek sosial merupakan sebuah gerakan untuk membangun masyarakat yang peduli akan beberapa aspek tertentu seperti sosial budaya, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. pastinya dibutuhkan keberlanjutan untuk benar-benar menciptakan revolusi signifikan dari usaha tersebut. pertemuan kami pada hari tersebut adalah yang keempat kalinya sekaligus yang terakhir. oleh karena itu, tanpa kenal lelah seluruh energi kami kerahkan untuk menyukseskan hari-H. 


jam analogku berkata bahwa sekarang sudah pukul dua belas siang; projek sosial telah berakhir. kami pun pulang membawa peluh dan keluh akibat rasa lelah. sebelum kembali mendaki puluhan tangga menuju kamar, aku berbelok ke koridor kiri dan memasuki ruang pembina. laporan dan pengumpulan handphone selesai dalam beberapa saat sebelum tragedi terjadi.


aku pun melanjutkan perjalananku ke lantai tiga asrama putri mars. setelah sempurna menyandarkan punggung di kursi depan meja belajar, aku membuka WhatsApp sejenak untuk menemukan fakta bahwa kamar obrolanku dengan Mami kosong. kontak teratas itu tidak lagi menyimpan percakapan yang kami lakukan selama beliau hidup. tak ada yang lebih menyesakkan untuk kuhadapi pada hari itu, bahkan untuk seumur hidupku, untuk mendapati perasaan kehilangan yang mendalam. 


bahuku berguncang seiringan dengan air mata yang berkucuran keluar dari kedua sudut mataku. 


“setidaknya kemarin hanya hal itulah yang menjadi mengingatkanku bahwa Mami tidak pernah jauh. sekarang percakapan kami benar-benar hilang. sekarang aku benar-benar kehilangan Mami.”


untuk kesekian kalinya orang pertama yang aku ingat untuk kuceritakan tentang masalah ini adalah dia.


sementara teman-teman selantaiku berlalu lalang di belakang, aku meneruskan tangisanku di depan MacBook. sekembalinya aku di dunia nyata, mereka berangsur-angsur menepuk pundakku dan memberi semangat tanpa bertanya banyak. mereka tahu kalau aku bukanlah orang suka dicampuri urusannya. 


“aku bersyukur karena sekarang kamu bisa cerita ke orang. pokoknya kalau ada apa-apa, jangan pernah merasa sendiri lagi, ya. mungkin nggak harus cerita ke aku ataupun teman kamu itu, pokoknya yang penting kamu nyaman aja. nggak baik kalau kamu sakit-sakitan cuma karena pikiran.” salah seorang di antaranya berkata demikian.


tanpa ucapannya barusan, barangkali aku tak akan sadar kalau ternyata aku setoksik itu. barangkali aku tak akan sadar sebesar itulah perhatian teman-temanku. barangkali aku tak akan sadar betapa penting orang yang telah bersedia menerimaku dan segala sampah pikirannya. 


terima kasih. kalian benar-benar berharga.


***


suatu hari di liburan yang seharusnya menyenangkan, salah seorang dari mereka yang kusebut sahabat itu hilang. aku tak bisa berbuat apapun karena aku berprasangka kalau kehilangan ini akan jadi permanen. jadi aku kembali bersedih. 


terima kasih. setidaknya kalian pernah ada. kalian benar-benar berharga.



—Selasa, 2 Januari 2024 pukul 14.33 WIB

aku adalah peran figuran

what i listened to while i read this panggilan sayang pegangan tangan perhatian rasa aman dan nyaman berbagi es krim kesukaan berteman bisa ...