Monday, September 19, 2022

diam

what i listened to while i read this

“kenapa, ya, kita nggak se-asyik dulu?”


diam adalah jawabanku. sembari menggerakkan kaki menyibak pasir pantai, aku menatap lautan kosong. tidak juga, sih, sebenarnya. ada deburan ombak, ikan yang berdansa bersama ribuan makhluk hidup ukuran mikro di sekitarnya, burung yang usil mengepakkan sayapnya pada permukaan air, barangkali berharap ada ikan yang mau menerima salamnya, dan lainnya. 


“yang,” ia memanggilku lembut.


“maaf.”


sekarang ia bangkit. setelah menepuk-nepuk pakaiannya yang masih tertempel beberapa kerang dan kerikil, tangannya menjulur padaku. sigap kuterima dan sekarang aku telah berdiri di hadapannya. dengan masih berpengangan tangan, tangannya yang lain turut serta memeluk genggaman kami. aku pun mengikuti.


air mataku pecah. tak dapat lagi kubendung perasaan ini. aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. aku bingung, sedih, takut, marah, entahlah, yang pasti aku merasa bersalah.


kuucapkan maaf kedua kalinya.


ketiga.


keempat.


aku merasakan kehangatan telapak tangannya yang membasuh pipiku. ia pun sempat menyibak anak rambutku untuk menyambut duka dan luka dari air mata yang tak kunjugn reda. “jangan menangis, sayang,” matanya menatapku lekat. “ini bukan salahmu.”


‘dan bagaimana bisa dirinya membuatku semakin jatuh cinta meski di sisi lain aku terus membuatnya kecewa.’


“kenapa Tuhan harus mengirimkan orang sebaik kamu buat aku? lihatlah, sekarang semakin jelas, bukan, aku tidak pantas buat mendampingi hari-hari menyenangkan dan segala mimpi indahmu itu.”


“kita bisa. pasti bisa.”


“bagaimana kamu bisa percaya?”


“lalu kamu maunya apa?”


bahuku naik-turun membersamai berisiknya pikiranku. tapi aku diam.




—Senin, 19 September 2022 pukul 21.26

Wednesday, September 14, 2022

analogi tai

what i listened to while i read this

tidak berfaedah. kuhabiskan lebih dari 100 jam bersamanya dan semua pasti akan berkahir juga.


buat apa.. buat apa?


aku kembali mempertanyakan keberadaanku di sini.


sebenarnya, hati siapa yang aku indahkan, buah pikiran siapa yang aku terima, suara siapa yang aku dengar, entahlah.


runyam. semuanya berkecambuk di dalam diri ini. siap meledak kapan saja dibalut kuat sekaligus rapuhnya lapisan palsu rupa dan raga. 


perkara asmara aku memanglah masih bodoh. kuakui. 


“sepertinya bukan bakatku.”


“yah kalau begitu aku capek hidup, berarti bukan bakatku juga untuk hidup? aku harus mati, begitu?”


“eh, jangan dulu, lah. nanti siapa yang akan menemani aku jajan es krim tentrem di perempatna slamet riyadi?”


ia menatapku sambil menarik kedua sudut bibirnya, tidak tersenyum melainkan wajah datarlah yang ia persembahkan padaku.


“terlepas dari bakat atau tidak, kurasa,” tangan kanannya mengangkan botol air mineral berilustrasikan mata air pegunungan lengkap dengan belanganya. “hidup kita ini seperti tahi di sungai ini.”


aku sedikit tersentak. 


“mau tidak mau, ia harus keluar dair tubuh manusia. lalu ia akan melalui perjalanan panjang. ia akan kelaur dari tempat pembuangan ke sungai, mengalir tenang, diterjang badai, terus sampai ke tempat yang kita tidak ketahui. entah ia akan menjadi apa, tapi kotoran itu pasti harus selalu dikeluarkan. salah satu ciri makhluk hidup yakni mengeluarkan zat sisa, kan? kalau tidak, kita tidak akan bisa disebut makhluk hidup, atau setidaknya hidup dengan memiliki “hidup”.”


sekarang ia mendekatkan diri padaku dan menatapku lurus, “mau es krim stroberi atau cokelat? vanilla kayaknya enak nggak, sih?”


kuanggukkan kepala. entah pada wejangannya atau pertanyaannya. kurasa keduanya.




—Rabu, 14 September 2022 pukul 17.07

aku adalah peran figuran

what i listened to while i read this panggilan sayang pegangan tangan perhatian rasa aman dan nyaman berbagi es krim kesukaan berteman bisa ...