Sunday, November 17, 2024

aku adalah peran figuran

what i listened to while i read this

panggilan sayang

pegangan tangan

perhatian

rasa aman dan nyaman

berbagi es krim kesukaan

berteman bisa

bermesraan juga bisa

bersama jalan-jalan

kelakar dan bercandaan

jangan bilang siapa-siapa. kenapa? biar kita saja yang paham


***


semalam aku berada di trotoar jalan gatot subroto, surakarta

mengikuti arus, jalanku tergopoh-gopoh karena tidak kuat mengemban perasaan sesak atas riuhnya lautan manusia 

“ah, aku harus menepi.”


semenit kemudian pantatku sudah mendarat mulus pada sebuah serambi ruko

para penikmat malam minggu masih berlalu lalang tanpa henti

“satu, dua, tiga, empat… ratus,” banyak sekali


biasanya orang-orang tersebut jalan setidaknya berdua

kadang bertiga atau berempat

yang pasti jarang aku lihat orang jalan seorang diri—seperti aku


sembari bermain tangan, aku mengamati interaksi-interaksi mikro dari beberapa pejalan

manisnya pasangan muda-mudi kadang membuat senyum lahir di balik masker ini

ada pun sepaket ayah-ibu-anak yang memancarkan kehangatan hubungan di antara mereka


aku meyesal tidak membawa buku dan pena saat itu

hanya sedikit dari bentuk cinta yang bisa aku ingat dan tuliskan di sini


hebat, ya

mereka yang bermain peran

penonton turut merasakan


tapi bedanya itu bukan sandiwara

eh, iya, kan?


cinta sejati di dunia ini benar-benar ada, kan?


seperti apa, ya, sebenarnya bentuk cinta itu?


semoga kelak aku bisa berada di panggung tersebut

bersama seseorang untuk bermain peran bersama

hanya berdua, mesra

selama-lamanya


https://id.pinterest.com/pin/1050042469378487340/



—Minggu, 17 November 2024 pukul 19.03 WIB 

Thursday, October 31, 2024

dua belas purnama lalu

 what i listened to while i read this

rinai hujan di malam hari mengetuk-ketuk jendela kamar.

anehnya bising dari bulir-bulir air langit tak sama sekali terdengar.

apakah ini hasil dari berbicara denganmu, sayang?


bahkan dimensi waktu tak lagi terasa saat bersamamu.

ketika kedua jarum jam bersatu di tempatmu, kita terpaksa mengucap “sampai ketemu.”

apakah ini karena telanjur aku tertarik ke dalam pikatmu, sayang?


meski jauh, dapat kurasai betapa dekat kehadiranmu,

tergambar pula saat kita masih benar-benar bersama di dalam benakku.


akankah kita mengulang masa-masa itu?

apakah kita akan benar-benar menjadi satu?



—Kamis, 31 Oktober 2024 pukul 20.37 WIB 

Saturday, September 7, 2024

andai dia tahu

what i listened to while i read this

“sekarang aku tahu kenapa aku tidak lagi suka padamu,” panasnya siang bolong menyengat kulit; menjadi latar percakapan terakhir kami kala itu. tak ada badai ataupun hujan deras yang membuat kesedihan bertambah. malahan, pemandangan hamparan taman di depan yang memasuki musim semi menjadi saksi perpisahan kami.


alisnya tertautkan menyiratkan seribu tanya pada pernyataanku.


“ke mana tujuan kita setelah ini?” tanyaku.


tangannya meraih telepon pintar di depannya masih dengan menatapku, “pulang. mau pesan gojek sekarang?”


aku menggeleng pelan sambil menunduk. sedih rasanya mengetahui bahwa sekarang ada lebih banyak alasan yang bisa memperkuat kepergianku. rasanya seperti tiba-tiba saja mendapat tsunami. ke mana aku selama ini, kenapa baru menyadari hal ini? ‘dasar budak cinta yang buta,’ cercaku pada diriku yang malang.


“ke mana tujuan kita setelah ini? mau dibawa ke mana hubungan kita setelah ini?” 


bibirnya terkatup dan terus begitu selama tujuh detik setelahnya. sekarang ia turut menunduk. entah tengah mencari jalan keluar atau mengheningkan cipta, aku tidak bisa membaca dengan jelas air mukanya. begitupun keadaan kami sekarang.


jelas sudah. ketidakpastian adalah jawabannya. 


sayangnya, titik toleransi tiap orang berbeda. untuk kali ini, aku tidak kuat lagi menerimanya.


kursi panjang berdecit pelan saat aku bangkit dari duduk. kemudian, aku berjalan menjauh darinya. pelan-pelan, saat aku berbalik badan, semburat sosoknya pudar sampai di saat bayangannya tak lagi kentara. 


sepertinya siang telah berganti malam. udara dingin menusukku yang tak lagi mengenakan jaket sebab telah kuberikan padamu pada hari pertama kita bertemu. meski susah, aku melanjutkan perjalanan; berusaha tetap berjalan sejauh yang aku bisa. biarlah masa lalu kami tak lagi dapat diterka. biarlah saja, untuk saat ini, kami sama-sama mencari jawabannya meski tak lagi bersama.


sesungguhnya rasa sayangku amatlah besar. inginnya aku sendiri yang mengarahkan, menjelaskan, dan menjawab pertanyaan itu. beribu skenario menyenangkan kita berdua sudah terbenam di dalam kepala untuk benar-benar diindahkan. bisa saja aku mengajakmu jalan ke desa, memetik bunga liar sepanjang jalan, lalu menghitung berapa orang yang mengenakan batik selama di sana. tapi kalau kamu saja tidak mau menerima pertanyaanku sekarang, ya, buat apa lagi aku berharap kamu berkenan jadi tokoh utama di mimpi-mimpi indahku kelak? siapakah kamu di masa depanku kelak? nggak tahu? ya, sama, jawabanku juga “tidak tahu.”


untuk itu, mari kita cukupkan pertemuan kita kali ini. 

terima kasih karena sajiannya lezat dan mengenyangkan. pertemuan ini menyengankan. aku senang. 

senang bisa bertemu denganmu.

senang bisa mengenalmu.

senang jadi temanmu.

senang.

sayang.

aku sayang kamu.

sayangnya kisah ini harus berlalu.

sayang sekali, ya, kita hanya bisa menabung rindu.

kapan lagi kiranya kita dapat bertemu? 

tidak tahu.

selamat mencari tahu.



—Sabtu, 7 September 2024 pukul 16.57 WIB 

aku adalah peran figuran

what i listened to while i read this panggilan sayang pegangan tangan perhatian rasa aman dan nyaman berbagi es krim kesukaan berteman bisa ...