Saturday, August 24, 2024

mata—lentera yang nyata

what i listened to while i read this


pikiranku terlayangkan pada saat kamu menatapku; ketika pandangan kita bertemu.

nggak ada yang kupikirkan selain ucapan profesor kelasku minggu lalu.


katanya, mata adalah bagian paling luar dari isi kepala kita karena dua bola segenggaman tangan itu terkoneksi langsung dengan yang namanya central nervous system dari otak. nggak ada yang kubayangkan selain kehebatan masing-masing kita untuk menelaah betapa besar makna diri kita hanya dengan menatap matanya saja.


dari situ aku berharap kalau isi kepalamu itu bisa benar-benar aku pelajari seperti apa yang sudah aku lakoni di kelas.


dari situ juga aku tahu kalau nggak semua memorimu berisikan canda dan tawa yang biasa kita bawa pada tiap kesempatan yang kian jarang. pasti banyak bagian berdebu yang kalau dipoles akan menyibak rahasia terpendam kamu itu. mungkin terdapat pula beberapa serpihan kaca yang siap menusuk siapa saja yang menyisiri sudutnya, menyisakan sedikit perih seusai menamatkan perjalanannya. 


tapi nggak apa-apa, kok, aku siap menerima sendumu itu. aku juga siap senantiasa mengasihi saat-saat layumu. malahan, aku akan merasa sangat terhormat kalau bisa jadi bagian dari hari-harimu yang kelak menjelma kenangan yang hangat untuk selalu diingat.


sekali lagi, aku mengingat bagaimana rasanya menatapmu. aku mengingat betapa nyaman saat-saat bersamamu. aku mengingat sudah sekian pekan sejak terakhir kali kita pergi makan, yang mana jadi saat terakhir sebelum kita terpisahkan oleh jarak yang cukup membuatku terisak. 


"mau makan roti ini bersamaku?"


ah, mata yang indah.

sampai kembali berjumpa, semoga segera.




—Jumat, 23 Agustus 2024 pukul 23.21 WIB 

Sunday, August 18, 2024

nggak lama

what i listened to while i read this

mataku mengerjap cepat saat udara pagi menyambar sebuah daun yang terbang dan hinggap di mukaku. aku meringis karena meski sedikit perih, keadaan itu cukup lucu jika aku mempunyai kemampuan untuk jadi orang ketiga serba tahu yang menonton sendiri keadaanku saat itu. 


setelah berlari selama beberapa saat aku merasa capai. maka dari itu, aku memutuskan untuk bersantai di bawah pohon trembesi yang sudah tumbuh menjulang, memberikan suasana teduh bagi siapa saja yang bersandar di batangnya yang sebesar dekapan dua orang dewasa. sembari menggerak-gerakkan kedua kaki sebentar, aku memutuskan untuk duduk dan menanggalkan penyuara jemala yang telah setia menjadi penyemangat lari pagi ini. akhirnya perasaan lega memenuhi dada. 


sembari berderma dengan embusan napas yang harapannya penuh dengnan karbon dioksida kepada pepohonan di atasku ini, aku memutuskan untuk mendengarkan suara alam. gemeresik suara daun cokelat yang bergesekan di atas tanah memberi kesan tersendiri bagiku. mereka seolah menjelma menjadi sebuah kumpulan nasihat tentang siklus hidup.


bahwasannya daun yang sudah tidak hijau mestinya tak lagi terikat pada dahan atau bahkan sekadar ranting pohonnya. ia akan tersapu angin dan pelan-pelan tapi pasti menyatu dengan tanah, tempatnya dulu dilahirkan yang sekarang menjadi pusaranya bermuara. kemudian, ia akan bersatu dengan bumi, menyburkan tanaman induknya. lagi dan lagi, proses itu berulang pada daun-daun lainnya.


apakah tidak cukup jelas kalau pada akhirnya kita akan menemui hari akhir kita masing-masing? 


akan tetapi, ingat juga kalau kita masih punya hari ini.


Summer Strike (2022)


masih banyak sunrise yang belum kamu tangkap pemandangan indahnya. jangan menyerah sekarang. lanjutkan perjalanannya.


ingat juga dengan lis toko es krim yang ada di buku catatan kamu itu. sempatkan waktu untuk mengapersiasi diri.


ada lebih banyak lagi orang yang akan datang dan pergi membawa bunganya masing-masing. meski mawarnya cantik, ia masih berduri. kalau sedap malamnya wangi, ia hanya akan terasa ketika kamu sudah siap-siap ke alam mimpi. apapun bunga yang akan ditanam di pekarangan rumahmu itu, jaga baik-baik. jangan dibandingkan, jangan dilupakan. semuanya cantik dan mesti ada untuk memberi makna di hati.


hidup ini nggak lama. jadi suburkanlah tiap detiknya, bersatulah dengan ruang dan masa selagi masih ada. jangan membuatnya terlewatkan sia-sia.


aku pun bangkit dari istirahatku dan mulai berjalan pulang. sepertinya saat ini waktu yang tepat untuk menyiram tanaman mama di depan jendela kamar.




—Minggu, 18 Agustus 2024 pukul 23.16 WIB

Tuesday, August 6, 2024

selamat pagi, cinta

what i listened to while i read this


pagi ini aku bangun subuh dan membaca sebuah buku, seperti biasa. kemudian, menunggu pukul tujuh pagi datang, aku terlelap sejenak. tidurku ringan di dalam angan, seperti berselimutkan awan dan permen kapas manis yang siap membuat siapa saja yang merasakannya tersenyum meringis. dibangunkan oleh bunyi burung hantu dari telepon pintar, suara denting notifikasi pesan juga datang menyertai. meski setengah kesadaranku masih di udara, aku menatap layar redup tersebut. sebuah figur yang familiar tampil sebagai pengirim ucapan selamat pagi paling manis seantero jagad. aku tersenyum simpul sambil meletakkan kembali benda itu, berharap aku bisa bangun dari mimpi indah ini. setelah beberapa saat aku mendekatkan lagi handphone itu. ternyata bukan mimpi. pria itu adalah entitas nyata, paling kukagumi sepanjang masa, dan sekarang namanya bahkan sedekat genggaman tangan. ah, indahnya perasaan jatuh cinta.




—Selasa, 6 Agustus 2024 pukul 21.01 WIB

aku adalah peran figuran

what i listened to while i read this panggilan sayang pegangan tangan perhatian rasa aman dan nyaman berbagi es krim kesukaan berteman bisa ...