Saturday, November 12, 2022

kesekiankalinya

what i listened to while i read this

kosong melompong

hati ini malah menjadi jadi

pikirku tak sampai 

tapi kenapa kamu sudah beranjak pergi


eh, tunggu

kuncimu masih tertinggal di aku


katanya, tak mengapa

perasaan bolehlah tak lagi punya peran

tapi kenangan biarlah bertahan


oh, baiklah



kuakhiri dengan sunyi

hai sepi

aku kembali lagi 




—Sabtu, 12 November 2022 pukul 16.06

Sunday, November 6, 2022

luas

what i listened to while i read this

bumi ini bulat. tidak bersudut, tidak berakhir. ya, mungkin tembok surau pembatas kawasan putra-putri yang bisa menahanku untuk terus berjalan. ya, masa, aku berjalan melayang ke kawasan pria? kan, malu. 


tanganku menengadah siap menerima segala yang diberikan Tuhan. eh, tidak juga, sih. aku sukanya request sebenarnya. walau di akhir nanti aku bubuhkan, “tapi yang terbaik dari-Mu saja, YaRabb.” embel-embel saja biar tidak terlihat jelas betapa repotnya hamba yang satu ini. hehe.


***


suatu hari yang cerah, cukup menyengat bagi tangan halusku yang sudah kulumuri losion anti-gosong, mata yang sudah kusipitkan untuk menahan cerahnya sang surya ini menelisik tiap sisi pemandangan. pada perjalanan menuju masjid pelbagai latar aku lewati. gedung-gedung yang didirikan sepanjang jalan mengandung bermacam-macam suasana. bahkan beberapa di antaranya menggabungkan latar waktu yang berbeda karena teringkasnya jarak jauh antartokoh di dalam genggaman gawai. adapun taman kosong yang juga ajeg menawarkan sejuknya rumput hijau untuk disinggahi. oh iya, jalannya tidak semulus muka artis korea. banyak gronjalan, meliuk kanan-kiri, kadang ada tanjakan, dan sebagainya. sedikit melelahkan, menyenangkan, ya, gado-gado campur aduk.


***


anak panah ini siap melesat membelah jutaan atom di udara untuk mencapai sasaran di depan mata. tinggal tarik, dan,


“perhatikan sikumu!” ujar pria bertopi putih di sebelahku.


aku mendengus kesal karena tegurannya memecahkan fokus. tapi aku tetap mengindahkannya dengan memperbaiki posisi tangan. 


“oh iya,” sekarang ia membuka pebicaraan. sungguh, aku senang berbicara dengannya--tapi tidak untuk kali ini. “gimana perasaanmu tentang kejadian kemarin?” yang benar saja! ia mengatakan itu sedetik sebelum aku melepaskan anak panah dan sekarang sang harapan tak sampai pada tujuan. 


ingin kusumpal mulutnya.


“bisakah kamu diam? atau setidaknya, jangan membahas hal itu, lagi?”


“kukira kamu senang.”


“sayangnya perkiraanmu salah.”


“kenapa salah?”


“karena … tidak benar.” ujarku sambil berlalu mengambil anak panah yang tengah bersembunyi di balik semak-semak.


seperempat jam berlalu dan benda yang kucari belum juga ketemu. orang yang tadi berbicara denganku sekarang menyusul dan ikut mencari dari sisi lainnya. dirogohkannya tangan yang dibalut sarung tangan itu ke dalam kumpulan daun dan ranting yang menghasilkan tangkapan jackpot. 


“kalau butuh bantuan, bilang, ya.”


mataku mengerling malas padanya, “ya.”




—Munggu, 6 November 2022 pukul 14.04

Tuesday, November 1, 2022

lucu

what i listened to while i read this

kalian ingat tentang pernyataanku tentangnya? ya, yang sewaktu itu aku bialng kalau dia tidak begitu menarik dan menyenangkan karena aku belum sama sekali mengenalnya dan dengan sisa-sisa kenangan pahitku bisa saja ia melakukan hal yang akan menyebabkan tragedi terulang lagi dan aku tidak dapat mempercayainya begitu saja? 


aku tarik ucapanku. 


sekarang kami tengah berjalan-jalan diiringi sepoi angin sore di bawah teduhnya langit sore sepualng sekolah. tangan kananku telah dipeluk oleh gelang hitam, begitupun dengan tangan kirinya. bagaimana dengan tangan kami lainnya yang tidak terbelenggu oleh aksesori tipis tersebut? tentu saja keduanya tertautkan erat dan berayun-ayun manja sepanjang jalan pulang. 


pada beberapa kesempatan aku meliriknya jahil sednagkan ia secara terang-terangan tersenyum menyadari hal tersebut. 


kami melakukan pemberhentian pertama pada kafe kecil yang tidak jauh dari rumahku. meja untuk empat orang kami pilih pada sudut ruangan. aku menjatuhkan diri pada sofa empuk itu. ia mengikuti di sebelahku. saat kuregangkan punggungku karena kuakui usia muda ini tidak menjamin lambatnya datang sebuah esensi lansia ia sekali lagi menatapku penuh arti. aku membalas tatapannya dengan sekali mengarahkan kepala ke atas seperti bertanya, “kenapa?”


ia hanya menjawab, “kamu lucu banget, sih.”


“apaan sih,” ujarku santai meski dalam diri ini hati sudah terbantai. ingin rasanya aku mengatakan, “kamu lebih lucu lagi karena bahkan aku tidak tahu di mana titik kelucuanku dan kamu masih saja mengatakannya dan jelas sekali hal itu membuatku salah tingkah padahal aku tidak seharunnya begitu kalau aku benar-benar merasa lucu yang artinya kamu telah berhasil meningkatkan rasa percaya diriku yang seharusnya kumiliki. terima kasih.”


minuman pesanan kami datang dan aku menegakkan badan untuk menyeduhnya. udara dingin ini memang pas untuk menikmati cokelat hangat.


melihat warna cokelat itu mengingatkan pada sebuah lelucon.


“kamu tahu kan, indonesia merupakan negara agraris terbesar setidaknya di antara negara-negara maju seperti amerika, zimbabwe,”


ia menahan senyumnya. jelas ia tahu bahwa aku merusaha membuatnya tertawa.


“nah indonesia jadi punya banyak wilayah yang menjadi lahan persawahan kan, ya? karena itu aku jadi bertanya-tanya.”


kepalanya ia telengkan, “apa, tuh?”


“tanah liat itu sebenrnya ngeliatin apa, sih?”


minuman di tenggorokannya sekarang kembali lagi ke mulut dan siap untuk menyembur sebelum ia menutupnya.


“hehe.”


“kamu lucu banget, sih.”


jokes-nya atau akunya?”


“dua-duanya.”  




—Selasa, 1 November 2022 pukul 00.07

aku adalah peran figuran

what i listened to while i read this panggilan sayang pegangan tangan perhatian rasa aman dan nyaman berbagi es krim kesukaan berteman bisa ...