what i listened to while i read this
segepok kertas tersaji di depan mata. aku termangu. bukanlah uang yang membahagiakan melainkan kertas laporan akhir bulan yang menyengsarakan. tanganku meraih satu yang terletak di bagian paling atas. aku melihat, “sial. nggak balance.”
punggungku yang sudah tertempel sepasang koyok mulai kuregangkan, dan jari-jari ini lincah menari di atas tuts MacBook. menarilah, lihai cemerlang gerakannya, melahirkan sebuah kepuasan dan harapan akan masa depan.
jam yang bertengger pada dinding kantor di depanku menunjukkan indonesia telah mencapai waktu pukul 11 malam. keningku berkerut di tengah malam yang larut. kacamata pun sudah melorot pada batang hidung ini. kuedarkan pandangan. mataku menyipit sambil mengobservasi ruangan yang rupanya tidak menyisakan seorang jiwa pun. atensiku kembali pada layar di depan diri. setengah jam kemudian aku bangkit dan membawa pulang sisa lelah dan hasil jerih payah untuk besok kupersembahkan pada yang di atas.
koridor kantor yang gelap menyisakan suara sepatu hak tinggiku yang konstan, berjalan lurus menuju lift di sisi gedung. setelah menuruni lantai 6, sekarang aku berada di basement dan mobil merah menyambutku hangat. siap mengantarku menuju rumah. oh salah, tempat singgah. karena sejatinya aku masih merasa tunawisma tanpa keberadaannya di sisiku.
kriek
pintu setinggi 2,5 meter dengan gaya minimalis kudorong pelan usai menempelkan sebuah kartu pada alat pendeteksi kubus di sisi gagang pintu tersebut. lampu-lampu menggeliat, memancarkan sinarnya pada setelan otomatis apartemen. kulepaskan hak tinggi yang menjunjungku gagah, kuletakkan handbag pelan dengan segala rahasianya yang dibungkus rapat dan elegan, juga riasan yang nampak dapat menutupi segala resah dan rapuh. aku kembali pada kekosongan.
usai membersihkan diri, aku jatuhkan diriku lunglai pada kasur. tak ada yang dapat menggangguku, kecuali,
ting!
“menerima pinjaman online.”
“sialan. aku sudah berharap terlalu tinggi. mana mungkin ia masih bangun, atua setidaknya ingat denganku. seharusnya aku yang mendahului percakapan. semua ini juga karena salahku, kan?”
pandanganku terpaku pada langit-langit putih kamar ini.
“dih, persetanlah. aku tak sudi. aku mau tidur saja.”
aku terlelap usai monolog singkat tersebut.
—Senin, 4 Juli 2022 pukul 19.34