what i listened to while i read this
kami menyusuri lorong setapak ini. aku berjalan lebih dulu. sesekali atensiku memerintahkan kaki ini untuk berhenti pada satu sisi lorong yang dijaga oleh benteng denan bahan baku buku-buku setinggi 2 meter. ngomong-ngomong, saat ini kami tengah melakukan perjalanan pada rak fiksi. alasannya karean kami sama-sama gemar menghabiskan waktu untuk menyelami dunia baru lewat buku-buku itu.
ia menyodorkan salah satu buku dan mengajakku untuk menyatu dalam pikiran pun pendapatnya tentang buku asing itu. terkadang aku juga melakukan hal yang sama. dan apabila ternyata kami telah menamatkan satu judul buku yang sama, kami akan membagi ide dan juga kesan. dari caranya berbicara, dapat kurasakan bahwa ia setidaknya telah menghabiskan 2 jam sehari untuknya berkencan dengan lembaran penuh cerita. ia berbicara cepat dan jelas, dengan perbendaharaan kata segudang, pun sejajar dengan pemahamanku yang mungkin belum setinggi dia. “aih, jika begini caranya, bagaimana aku bisa tidak tahan untuk terus menatapnya. sial memang. dia terlalu keren.”
seketika tangannya telah berada di bahuku dan dengan cepat menggeserku untuk merapat pada rak. hal itu membuyarkan lamunanku. ternyata ia melakukannya sebab ada pengunjung lain yang hendak melintas namun terhambat olehku yang berdiri di tengah jalan. sebenarnya salah toko ini juga, sih. kenapa pula mereka membuat jarak antarkoridor tak lebih dari 3 hasta? apa mereka ingin meninggikan diri karena banyaknya koleksi buku yang mereka miliki, dan hal itu berbanding terbalik dengan kapasitas ruangan ini? atau karena mereka yang tidak ingin kami para pengunjung tak dapat lebih akrab karena tersedianya jeda di antara kami? apapun itu, aku sedikit kesal pun senang. yah, aku tahu kalian paham. sudahlah, aku tidak mau menjelaskan lebih lanjut.
“maaf, tadi ada yang buru-buru lewat. kamu udah aku panggil tapi nggak bergerak juga. mikirin apa, sih?”
“mikirin kamu.” dan yang keluar dari mulutku adalah, “hehe, iya setuju.”
alisnya tertaut, “hah, apanya yang bikin kamu setuju?”
“sudah bodoh, budeg pula. haduh, aku kenapa, sih.” aku mengusap muka tak sabaran. malu memenuhi diriku. “maaf, kayaknya aku ngantuk. jadi agak korsleting.”
ia menertawakan keanehanku lantas mengangguk paham. untuk meredakan malu, aku pun bergabung dengannya untuk ikut tertawa.
sekarang atmosfer di sekitar kami lebih nyaman dan aku dapat menyambut kembali kehadirannya yang sejak dulu kunanti. ia kembali. diaku kembali.
“kamu masih sama, ya, tas.”
“dan kamu masih sama juga ternyata.” kusedekapkan kedua tanganku untuk meningkatkan aura keangkuhanku padanya. “kan sudah kubilang, panggil aku pakai nama lengkap. anastasia. bukan tas. maksudku, aku bukan sebuah tas, paman danar. aku anastasia. namaku anastasia.”
“tapi kan kata ‘tas’ juga jadi bagian dari nama kamu. kalau nggak ada ‘tas’ nya nanti nama kamu jadi anasia, dong. salah tidak, adik-adik? ya jelas tidak.”
kubuang muka untuk mengalah. “yaa. terserah deh.”
bagaimanapun aku tak dapat menahan tawa. orang dihadapanku saat ini sepertinya memiliki semcam kekuatan untuk melumpuhkan pertahanan gengsiku, atau entahlah bagaimana caranya membuat orang sebatu diriku dapat dengan mudah hancur lebur dan menjadi pasir, memenuhi tiap hari-hari bersamanya.
—Minggu, 27 Maret 2022 pukul 21.21
