Sunday, March 27, 2022

hadap

what i listened to while i read this

kami menyusuri lorong setapak ini. aku berjalan lebih dulu. sesekali atensiku memerintahkan kaki ini untuk berhenti pada satu sisi lorong yang dijaga oleh benteng denan bahan baku buku-buku setinggi 2 meter. ngomong-ngomong, saat ini kami tengah melakukan perjalanan pada rak fiksi. alasannya karean kami sama-sama gemar menghabiskan waktu untuk menyelami dunia baru lewat buku-buku itu. 



ia menyodorkan salah satu buku dan mengajakku untuk menyatu dalam pikiran pun pendapatnya tentang buku asing itu. terkadang aku juga melakukan hal yang sama. dan apabila ternyata kami telah menamatkan satu judul buku yang sama, kami akan membagi ide dan juga kesan. dari caranya berbicara, dapat kurasakan bahwa ia setidaknya telah menghabiskan 2 jam sehari untuknya berkencan dengan lembaran penuh cerita. ia berbicara cepat dan jelas, dengan perbendaharaan kata segudang, pun sejajar dengan pemahamanku yang mungkin belum setinggi dia. “aih, jika begini caranya, bagaimana aku bisa tidak tahan untuk terus menatapnya. sial memang. dia terlalu keren.”


seketika tangannya telah berada di bahuku dan dengan cepat menggeserku untuk merapat pada rak. hal itu membuyarkan lamunanku. ternyata ia melakukannya sebab ada pengunjung lain yang hendak melintas namun terhambat olehku yang berdiri di tengah jalan. sebenarnya salah toko ini juga, sih. kenapa pula mereka membuat jarak antarkoridor tak lebih dari 3 hasta? apa mereka ingin meninggikan diri karena banyaknya koleksi buku yang mereka miliki, dan hal itu berbanding terbalik dengan kapasitas ruangan ini? atau karena mereka yang tidak ingin kami para pengunjung tak dapat lebih akrab karena tersedianya jeda di antara kami? apapun itu, aku sedikit kesal pun senang. yah, aku tahu kalian paham. sudahlah, aku tidak mau menjelaskan lebih lanjut.


“maaf, tadi ada yang buru-buru lewat. kamu udah aku panggil tapi nggak bergerak juga. mikirin apa, sih?”


“mikirin kamu.” dan yang keluar dari mulutku adalah, “hehe, iya setuju.”


alisnya tertaut, “hah, apanya yang bikin kamu setuju?”


“sudah bodoh, budeg pula. haduh, aku kenapa, sih.” aku mengusap muka tak sabaran. malu memenuhi diriku. “maaf, kayaknya aku ngantuk. jadi agak korsleting.”


ia menertawakan keanehanku lantas mengangguk paham. untuk meredakan malu, aku pun bergabung dengannya untuk ikut tertawa. 


sekarang atmosfer di sekitar kami lebih nyaman dan aku dapat menyambut kembali kehadirannya yang sejak dulu kunanti. ia kembali. diaku kembali.


“kamu masih sama, ya, tas.”


“dan kamu masih sama juga ternyata.” kusedekapkan kedua tanganku untuk meningkatkan aura keangkuhanku padanya. “kan sudah kubilang, panggil aku pakai nama lengkap. anastasia. bukan tas. maksudku, aku bukan sebuah tas, paman danar. aku anastasia. namaku anastasia.”


“tapi kan kata ‘tas’ juga jadi bagian dari nama kamu. kalau nggak ada ‘tas’ nya nanti nama kamu jadi anasia, dong. salah tidak, adik-adik? ya jelas tidak.”


kubuang muka untuk mengalah. “yaa. terserah deh.”


bagaimanapun aku tak dapat menahan tawa. orang dihadapanku saat ini sepertinya memiliki semcam kekuatan untuk melumpuhkan pertahanan gengsiku, atau entahlah bagaimana caranya membuat orang sebatu diriku dapat dengan mudah hancur lebur dan menjadi pasir, memenuhi tiap hari-hari bersamanya.




—Minggu, 27 Maret 2022 pukul 21.21


harap

what i listened to while i read this

kring!



sebuah bel yang tepat berada di atas pintu berdenting membersamai langkahku menuju meja kasir sekaligus tempat utama pemesanan minuman. segelas kupesan dan semenit kemudian pantatku telah menduduki kursi pada salah satu meja di sisi terdalam toko kopi ini. kemudian kesapukan pandangan, berharap ia datang tanpa perlu harapkan. ya, dia tak seperasa itu untuk membaca suasana hatiku. atau jangan-jangan aku yang terlalu banyak berbicara dengan kode? entah siapa yang salah. yang pasti, aku merindukannya dan yang kuinginkan saat ini hanyalah pertemuan. 


sudah tiga tahun sejak kelulusan kami dari sekolah menengah. bukannya tak bisa dihitung jari karena jumlah yang banyak, melaikan tak pernah sekalipun ada inisiatif darinya unutk mengajakku bertemu usai wisuda hari itu. didukung dengan perginya kami kepada masing-masing mimpi di berbeda negeri, membuat hubungan ini tak tahu harus dimaknai apa lagi. 


beruntungnya kemarin aku mendapatkan cuti yang lebih dari biasanya, dan mempersilakanku untuk juga meluangkan waktu menyapa teman-teman lamaku. sebenarnya ada banyak di luar sana kolega yang hendak kutemui. tapi sepertinya ada seorang yang menjadi nomor satu di dalam hatiku. 


tak usah kau tanya bagaimana dengan perasaannya padaku. ia merupakan anak kurang tahu diri yang kukira bahkan tak akan mengabariku jika tak ada hujan kucing di negara tempat ia tinggal. huft.


setengah jam, 30 menit, 1800 detik, aku masih terpaku di tempat. punggungku yang tak kuasa menahan beban harapan akhirnya pun layu dan kepalaku dengan nyaman kutaruh pada dua tangan di atas meja. aku memandangi dunia bawah. dua sepatu, lantai cokelat muda bercorak kayu tipis-tipis yang memberi kesan natural, kaki meja yang tegak menjulang, dan—


kring!


ini adalah lonceng kesekain belas terhitung sejak aku pertama kali masuk. dengan susah payah aku urungkan niat untuk menengok pada sumber suara. “mana muungkin ia akan datang teapt waktu. katanya saja ia sedang ada acara. jika aku melihat kehadirannya setengah jam setelah ini, aku pasti sudah berada pada posisi sujud syukur. kalau tidak, ya sudah, aku pupus. pulang.”


sekarang jam telah menunjukkan pukul 10 pagi. semalam dalam aplikasi berbalas pesan kami membuat janji temu pada pukul 9.45. entah karena terlalu besarnya rasa rindu atau bagaimana, namun diri ini telah siap bertemu bahkan datang sebelum waktu yang telah ditentukan, yakni 9.30. aku tahu ini bodoh. untuk apa pula kusia-siakan 15 menitku untuk menunggu lebih awal si tanpa kepastian ini. untuk apa aku bermimpi diberi ikatan yang pasti. haduh, dasar si banyak khayal.


aku merasakan kehadiran seseorang di depanku. tapi rasa kantukku kali ini menang. maka aku memilih pergi untuk masuk ke alam mimpi. 


entah berapa lama aku tertidur, namun saat kutegakkan badan, di depanku ia telah hadir dan tangannya yang sibuk pada telepon genggam di depan muka seketika ia pindahkan sehingga tatapan kami bertemu. netra cokelat itu memberiku kekuatan untuk berkunjung ke masa lampau, mengingat semua hal yang telah kita lakukan dan akan terus terkenang.


“akhirnya. sudah bangun?”


“dari tadi, ya? sorry,”


“gapapa. aku yang seharusnya minta maaf. aku terlambat datang dan bikin kamu nunggu. maaf ya.”


kuanggukkan kepala kikuk. lama tak bersua membuatku membutuhakn waktu lebih untuk menyesuaikan diri. apalagi penampilannya yang sedikit berbeda, meski sekilas aku amsih dapat mengenalinya.


pria berkacamata di depanku memulai kembali percakapan. “jadi.. mau pergi? aku tahu tempat bagus di sekitar sini.”


mataku berkedip beberapa kali utnuk memastikan bahwa apa yang baru saja ia ucapkan bukanlah bagian dari bunga tidurku. maksudku, memang, aku berharap ia datang dan kami dapat bersama bernostalgia. tapi jalan-jalan dengannya.. tak pernah sekilaspun terlintas di benak.


pada akhirnya aku mengiyakan ajakannya yang berbuah manis karena ia memberiku senyuman simpul.


masih dapatkah aku berharap padanya?




—Minggu, 27 Maret 2022 pukul 20.05

temani aku

what i listened to while i read this

jemari tangan kananku dengan susah payah menadahi salah satu sisi wajah. kantuk menyerang tak gentarnya pada jam pelajaran bisnis. riuh kelas yang penuh dengan peluh dan keluh memperkeruh suasana. meski begitu, aplikasi notes pada layar Mac ku terus kutuangkan isi materi dari bu guru. yah, meski aku juga tak yakin semua hal telah kupahami betul. tak apalah. yang penting aku sudah berusaha mendengarkan. karena sejatinya yang tulus akan lebih bermakna dariapda yang hanya memiliki fulus. 


maaf meracau.


kita lanjut ke kelas. tadinya aku benar-benar ingin melahap semua penat dan membawanya ke alam mimpi. tapi beruntungnya aku karena para sahabat seketika hadir dan menyamankan diri duduk di sebelah. sesekali mereka mengajakku berbincang, menertawakan lelucon tak masuk akal yang agaknya hanya kami yang pahami, atau bahkan terkadang ia juga melayangkan pertanyaan berat tentang inti sari narasi bu guru di depan layar. sedikit demi sedikit capai ini lenyap. dan rasa sayang pun berkembang. 


tak ada aba-aba lonceng istirahat berkumandang, namun dengan sendirinya kami membebaskan diri dari kelas dan berhambur pada waktu bebas. pukul 8.20 tepatnya, aku dan salah seorang, atau salah dua, terkadang salah tiga dari ribuan teman, berjalan berdampingan menuju kantin atau koperasi. dijajakannya kami aneka makanan ringan. perjalanan yang menempuh waktu lebih dari 60 detik itu menjadi air yang lagi-lagi menumbuhkan persahabatan. lagi-lagi kami memanfaatkan waktu untuk mengobrol tentang segala yang ada di dalam pikiran. kadang ia datang dengan mimpinnya, aku membawa rencana, kami akhiri dengan amin serta doa, dan lain sebagainya. 


suatu saat pada siang yang hangat, di kelas kimia, tampak semrawut air mukaku menarik simpati para sahabat. mereka pun datan silih berganti, menanyakan kabar, memberi semangat, atau sekadar memberiku ruang sendiri untuk menikmati rasa sedih ini. apapun yang mereka berikan, percayalah, akan selalu tersematkan dalam benakku. dan aku sangat bersyukur akan hal itu.


sekali lagi aku berharap ada hal lain yang dapat kutuliskan. tapi sepertinya takkan pernah cukup sebuah laman daring untuk memanifestasikan bahagiaku yang raksasa. lantas hanya dapat kupersembahkan rapalan dini hari pada yang di atas, harapan atas kesejahteraan, panjang umurnya kebaikan, dan semua ini untuk kalian, para teman pembaca. 


amin.




—Minggu, 27 Maret 2022 pukul 18.33

Saturday, March 5, 2022

kata orang

what i listened to while i read this

mereka bilang, “kami sudah. kamu kapan?”


aku pun menatap lama diriku dalam bayangan cermin di hadapan. “benar. aku kapan ya?”


seolah setuju dengan parameter tak berdasar ini, perlahan tapi pasti, bayanganku mulai menautkan alisnya dan memberiku tatapan tajam—menuntut.


kuedaran pandanganku pada sekeliling. gelap. luas tak berujung—sepertinya. aku ingin mencoba berjalan mencari pangkal ruangan ini. selangkah kupijakkan kaki, aku pelan beranjak. kemudian,


hap! 


tangan duplikatku pada cermin menahanku untuk pergi. 


aku harus pergi. 


dan benar saja, lima menit berselang, perjalanan ini rupanya tak semenakutkan itu. remang-remang cahaya berangsur-angsur berbinar, menjadi aksesori indah laiknya butiran bintang di malam purnama terang. 


aku melihat kebaikan.


saat kutengokkan kepalaku pada cermin yang sudah jauh di belakang, benda setinggi dua meter itu sudah lenyap. sekali lagi kumengerjapkan mata untuk memastikan, rupanya benar. 


bayang-bayang buruk itu fana. cahaya memberiku harapan untuk menjauh dari bayangan yang gelap. 


tak ada yang hal yang buruk. ini hanya tentang bagaimana kamu menghadapinya. 


kamu tak perlu dengarkan bisingnya macet arteri kota kalau kamu bisa memasang airpods mu. terlihat apatis memang. tapi apakah tidak lebih jahat jika kamu memaksakan kehendakmu sendiri untuk terus memberikan kesempatan mereka mengambil alih, lantas membairkan dirimu sendiri terseok-seok mengamini titah tersebut?




—Minggu, 13 Februari 2022 pukul 19.39

aku adalah peran figuran

what i listened to while i read this panggilan sayang pegangan tangan perhatian rasa aman dan nyaman berbagi es krim kesukaan berteman bisa ...