Wednesday, November 29, 2023

salah siapa

what i listened to while i read this

“kita nggak bisa nyalahin masa lalu,” mataku menatap lurus pada pemandangan laut yang kosong. “tapi ironinya apa yang sudah terjadi memang seberpengaruh itu untuk masa kini, bahkan masa depan kita.”


angin sepoi menyibak anak rambutku. suara dahan dan daun yang berkelibatan memecah sunyi di antara percakapan kami. langit jingga semakin memerah bersamaan dengan larutnya sang surya di ufuk barat. seiringan dengan atensi yang kulayangkan kepada langit, sebuah bintang berekor panjang jatuh. 


“lihat,” ujarku sambil menunjuk objek bercahaya tersebut. 


make a wish?” tanyanya.


“kamu percaya?”


ia mengangkat bahunya.


aku mengalihkan pembicaraan. “pasti bintang itu sudah tua banget. ia, kan, menempuh perjalanan berjuta-juta cahaya sebelum sampai di bumi ini.”


kebingungan untuk merespon, lawan bicaraku mengangguk pelan.


“menurutmu, ada, nggak, sih, hubungan antara bintang jatuh dengan harapan? padahal mereka, kan, cuma benda, bahkan itu adalah sebongkah meteor yang tersisa dari pembakaran di lapisan atmosfer. selain itu, mereka tua dan tak berguna karena datang dari masa lalu.”


bibirnya menyimpulkan senyum tanda mengerti. ia pun menjawab, “mungkin kita memang nggak bisa berdoa kepada bintang jatuh.” kedua lengan ia tegakkan ke belakang untuk menyangga tubuhnya sebelum melanjutkan, “tapi para scientist bisa belajar banyak dari seonggok batu itu. kita bisa menggali pelajaran astronomi, menambah ilmu geografi, dan sebagainya. jadi menurutku, nggak selamanya masa lalu bisa kita tolak mentah-mentah keberadaannya. ini semua tentang bagaimana kita memperlakukan hal tersebut, entah sebagai yang tak berharga atau sebuah mutiara.”


“jadi salahku, ya, kalau aku masih sedih karena masa lalu.” 


ombak berdesir di hadapan kami. dunia semakin temaram; bulan telah menggantikan matahari sebagai pemeran utama pada panggung plafonnya bumi. 


“nggak ada yang salah dari perasaan kamu. justru dengan kamu mau untuk mengakui perasaan itu, artinya kamu sudah jujur pada diri sendiri. terlepas dari siapa yang salah, kita bisa pikirkan itu nanti. semua butuh waktu, begitupun dengan memahami keadanmu.”



—Rabu, 29 November 2023 pukul 07.51 WIB

Monday, November 27, 2023

dalam hati

what i listened to while i read this

manik mataku tak sedetikpun terlepas dari parasnya yang rupawan. kacamata yang tersangga hidung mancung itu menambah kesan baiknya padaku: pintar, atau setidaknya rabun itu disebabkan oleh kebiasaannya membaca dan belajar. sesekali aku berpikir, 


‘suatu saat mungkin tak akan ada lagi perasaan semenggebu ini.

suatu saat mungkin tak akan ada lagi kesempatan untuk dapat bercengekerama sedekat ini.

suatu saat pula, pastinya, kita akan terpisahkan entah oleh jarak, waktu, atau bahkan lebih jauh lagi, mati.’


ia mengelus lembut tangan kananku yang berada di atas meja sembari bertanya, “kamu mikirin apa, kok sampai melamun gitu?”


sebelum menjawab pertanyaannya, aku melepas genggaman itu untuk menukarnya dengan sebuah dekapan erat yang aku kalungkan ke tubuhnya. 


‘tapi aku tak akan lagi berencana tentang sesuatu yang tak dapat aku kendalikan. selagi ada, aku akan terus pecaya bahwa kita  akan dapat selalu bersama. aku akan nikmati tiap detiknya, kebersamaannya, senyumnya, dan semua tentang kita berdua.’


“aku sayang banget sama kamu,” jawabku beberapa saat kemudian. 


tangannya sekarang bergerak ke pucuk kepalaku untuk memberikan tepukan pelan. “makasih. aku sayang kamu juga.”


‘mungkin bila semua aku pahami, mungkin rasa ini tak menarik lagi. hidup dan segala misterinya, bolehkan kuterjang denganmu?’




—Senin, 27 November 2023 pukul 19.19 WIB

aku adalah peran figuran

what i listened to while i read this panggilan sayang pegangan tangan perhatian rasa aman dan nyaman berbagi es krim kesukaan berteman bisa ...