Saturday, September 30, 2023

menelisik isi pikiran yang berisik; psikologi

what i listened to while i read this

“kamu nggak akan ngerti! kamu nggak pernah, kan, meminta orang buat suka sama kamu? kamu nggak pernah, kan, ngerasain kesepian?” ia menodongkan jari telunjuknya padaku lantas berlalu dengan buru-buru—termakan emosi.


aku hanya mematung. tidak ada sanggahan atau sepatah kata yang aku keluarkan untuk membalasnya. aku tidak bisa sepenuhnya mengidahkan pernyataannya, pun menolaknya.


bohong kalau aku bilang aku baik-baik saja dengan kesendirian ini. malahan, sering aku merasa kesepian. tapi kurasa sepi adalah bagian dari hidup yang tidak terelakkan. malahan, sering aku memilih untuk menjelma bersama sepi tersebut untuk dapat benar-benar memahami hidup. tapi, ya, buat apa aku menjelaskan hal ini? toh, tidak akan ada yang peduli. 


tapi, setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya ada yang salah.


***


sendiri. apakah sendiri selalu sepi? menurutuku, jawabannya adalah tidak. isi kepalaku berisik minta diperhatikan tiap detik dan pokok bahasannya selalu saja tentang masalah yang pelik. huft!


berarti, aku tidak akan pernah merasa kesepian, kalau begitu? tidak juga. sepi luas pengertiannya. tapi terkadang, aku pun perlu seseorang untuk meredakan panasnya otakku yang terlalu keras berpikir, berteriak, dan memaksakan diriku untuk terjaga bahkan ketika saatnya aku sudah terlelap. well, rasanya aku terlalu berharap. memang ada, ya, orang lain yang mau mengorbankan energinya untuk diri ini?


***


“aku mau menjadi rumah yang kamu tahu ke mana kamu bisa pulang.”


matanya dalam menatapku. di atas rerumputan hijau yang tumbuh subur ini, ia mengungkapkan isi harinya. seperti itu pula perasaan kami saat ini bertalian saling mengisi kekosongan satu sama lain. namun, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan hal ini. bukannya aku lebih memilih untuk tinggal di padang rumput gersang ketimbang alang-alang yang memiliki berbagai jenis bunga lengkap dengan hewan penyemainya. aku hanya…


entahlah. “she said she was so sorry,” kataku ketika kepalaku tak lebih dari sejengkal dari telinganya; berbisik dengan suara keras. nyatanya, tempat ini terlampau ramai untuk pembiacaraan seserius ini. 


ia mengangguk paham. tak ada lagi yang bisa diharapkan.


***


kamar menyambutku dengan redupnya penerangan. “selamat datang.” ujarku pada diriku sendiri.


“jadi, sekarang maunya bagaimana?” tanyaku pada diri sendiri—lagi.


“aku mau belajar psikologi agar dapat memahami manusia yang terlampau rumit ini.”


sebuah konklusi tak berarti kutetapkan dalam hati. namun, akan kutelusuri lagi persoalan ini. mungkin bukan sekarang atau nanti. tapi aku akan kembali.



—Sabtu, 30 September 2023 pukul 20.23 WIB

aku adalah peran figuran

what i listened to while i read this panggilan sayang pegangan tangan perhatian rasa aman dan nyaman berbagi es krim kesukaan berteman bisa ...