“kamu cantik.”
kutelengkan kepalaku untuk benar-benar dapat memahami apa yang ia katakan.
ialah pria yang kulihat penampilannya pada pagelaran musik semalam. kami tak pernah berjabat tangan atau bahkan saling mengetahui sebelumnya. ia pun sebelumnya berkata kalau mengenalku dari salah satu kawannya.
aku menatapnya heran dan berkata, “salam kenal.”
karena aku tak tahu harus berkata apa lagi, aku berpamitan. sebelum aku sempat melangkah, bibir tipisnya mengucap salam.
“wa’alaikumussalam.” jawabku singkat. ‘memang sedikit aneh. tapi kurasa tak apa.’
***
kepalaku tertanam pada buku di hadapan. baru tercabut setelah seorang dari teman sekelasku menaruh satu kotak susu pada sisi kanan meja. “titipan dari si itu.”
kuanggukkan kepalaku dua kali lantas kusapukan pandanganku pada isi kelas. kutangkap ia tengah menatapku melalui celah pintu kelas yang terbuka sebesar 10 cm. saat tanganku hendak melambai, gerakan larinya dari pandanganku membuatku terkejut dan mengurungkan niat. aku tersenyum kemudian.
***
kami biasanya akan saling sapa di antara pukul lima. hal itu dikarenakan kegiatan kami yang berjadwal sama. tapi hari ini tak kulihat sedetik pun batang hidungnya. tapi tak apa, kurasa sehari bertemu juga bukan masalah.
***
baiklah, sifat anehnya kali ini tak dapat dimaklumkan. ‘ke mana perginya ia?’
***
esoknya kami bertemu tapi dan ada lagi ragu dalam diriku. ia dikabarkan telah berubah. dan kami saling paham. maka aku pun mengikuti skenarionya. lagi-lagi apa yang belum dimulai telah selesai. dan takkan pernah lagi untuk membuka hati. terima kasih.
—Minggu, 10 April 2022 pukul 21.12
No comments:
Post a Comment