Sunday, December 24, 2023

tak tahu

what i listened to while i read this


samudra meluapkan ombaknya yang terus-terusan mengguncang kapal ini. seisi kapal berantakan tak karuan. aku tidak tahu pada siapa aku harus menautkan tangan kosongku ini agar mendapatkan keseimbangan. dari sisi kanan arahnya, sebuah gelombang setinggi tiga meter telah melahap separuh isi kapal, meloloskan semua benda ke laut bebas dari besi panjang yang biasa dinaiki rose dan jack pada film titanic. namun untuk belok kiri juga tidak bisa. kami semua akan lebih sengsara jika menabrak gunung yang tiba-tiba saja menjulang saat aku menengok lima menit lalu.


akhirnya kami memutuskan untuk memasang kacamata kuda dan berlayar terus ke depan, meski dengan susah payah mempertahankan posisi aman dari berbagai halauan. 


satu jam, dua jam, empat jam, kami masih berada pada garis merah yang tertera peta di tangan.


"seharusnya kita tiba di pelabuhan terdekat sebentar lagi.” ia berkata sambil membaca kertas yang kuyup terkena percikan badai. 


aku memutar kepalaku ke arah suara lantas bertanya, “berapa lama lagi?”


yang ditanya mengalihkan pandangannya dari peta, “mungkin setengah jam.” bahunya terangkat; tidak yakin.


di tengah gundah gulana akan ketidakpastian ini, aku hanya bisa berdoa dan berharap akan kebaikan. geladak terus bergoyang sementara jantungku hampir berhenti berdetak karena gerakan-gerakan mengejutkan dari kapal sekarat ini.


***


benar saja, dermaga kayu yang menjulur dari lidah pantai menyambut kami hangat dari jarak lima ratus meter. aku berjingkat girang. “akhirnya!”


setelah kapal benar-benar mendaratkan diri pada tempatnya, aku bergegas menarik tangan sang sopir dan megajaknya dalam sebuah dekapan hangat yang bersahaja. 


“terima kasih karena sudah bertahan, ya.” suaranya terdengar dari sebelah telinga kananku sebelum aku sempat berkata-kata.


“seharusnya aku yang berterima kasih karena sudah sangat baik mengendalikan raksasa bermesin ini.”


aku melepaskan pelukanku seraya menatapnya penuh arti. “bisa saja kita mati di tengah jalan. makasih banyak, ya.”


“kita bisa lewati ini karena bersama-sama. kalau nggak ada kamu, sudah kutinggalkan roda pengendali kapal dan membiarkan diriku terbunuh oleh lautan karena.. apa untungnya menyelamatkan diriku ini? aku tak berguna—“


mataku melotot seperti ingin keluar dari kelopaknya. “kamu nggak boleh ngomong begitu!” cercaku garang.


bukannya takut, ia malah menahan tawa karena pipinya sekarang mulai menggembung seperti ikan koki. “pfft. kamu kalau marah jadi semakin lucu, deh.”


‘dan kamu kalau tertawa jadi semakin tampan,’ timpalku dalam hati.


***


aku terbangun di sebuah ruangan. seluruh sisi dinding yang mengepungku bercatkan putih dan biru muda. plafonnya menjulurkan satu lampu yang digantung dengan piring sederhana di tengah ruangan. 


“mbak sudah sadar?” bapak-bapak di hadapanku mendekatkan wajahnya tepat ke depan diriku yang terkulai lemas, berharap mendapat jawaban iya dari seseorang yang beberapa kali terbatuk dan tak henti-hentinya mengeluarkan air. 


“kemarin saya nemu mbaknya terombang-ambing pakai pelampung di tengah laut sana,” jari tengah tangan kirinya menunjuk entah tepatnya ke arah mana, pokoknya aku mengangguk. “tapi mbaknya sudah pingsan. jadi saya bantu pinggirkan ke daratan.”


setelah berkali-kali aku mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf, aku bertanya, “bapak nggak menemukan teman saya?”


tangan kirinya mengangkat bucket hat biru dongker yang ia kenakan dan didekatkannya ke dada. tangan satunya lagi kini meraih satu tanganku seolah berusaha menguatkan. “maaf, mbak. kalau sampai sekarang belum ketemu, saya nggak bisa berkata apa-apa. daripada saya memberikan harapan palsu, lebih baik mbaknya berdoa saja pada Yang Maha Kuasa.”


aku ber-oh pelan dan menatap kaki telanjangku. 


aku baru sadar kalau ruangan ini masih berlantaikan pasir. mungkin ini adalah posko darurat yang dibangun sembarangan, asal bisa melindungi dari hujan dan panas, bukan untuk tidur apalagi tinggal lama. 


aku baru sadar kalau kisah heroik proses perjuangan kita melawan badai tarnyata sebuah mimpi belaka. kukira kami bisa menghadapinya bersama sampai akhir hayat—setidaknya ketika aku bangun ia ada di sebelahku. ternyata tidak juga.


***


di mana kamu? aku tak tahu.

di mana kamu? aku rindu.




—Minggu, 24 Desember 2023 pukul 17.25 WIB

aku adalah peran figuran

what i listened to while i read this panggilan sayang pegangan tangan perhatian rasa aman dan nyaman berbagi es krim kesukaan berteman bisa ...