what i listened to while i read this
kami bercengkrama asyik pada salah satu aplikasi berbalas pesan. alkisah tembok besar cina yang didirikan berabad-abad lalu, sepanjang itulah gelaran balon ucapan kami jika dihitung sejak kami berkenalan tahun lalu. tak ada yang salah di sini. hanya aku dan dia. dan juga orang-orang yang terkadang berlalu menjadi bahan perbincangan kami. dan juga beberapa lagi yang kadang berkaitan dengan kami namun tak pernah sedetik pun kami ucap namanya, malahan dihindari. “berbahaya.”
tak kurasai laiknya sawi hijau pada kebun sekolah yang tumbuh subur, sepertinya ada pula yang menyamainya. tumbuh di antara pesan “hehe” penutup percakapan malam itu. dan juga “hehe” lainnya yang kubalas cepat meski tanpa ada maksud tersirat.
tak ada yang salah di antara kami. aku yang membawa segenggam luka dan ia sang tamu yang rupanya berharap dapat mejadi penyembuhku. “namun sepertinya luka ini telah sampai pada titik sekarat, bro.” ujarku lirih meski sapaan nyaman masih terberikan.
ia tak membalas meski sebuah aksara. tapi ia tersenyum. tangan yang dipergunakan sebagai penyangga pada dagunya ia letakkan kemudian, dan ia kembali berjibaku dengan dunianya. tenang namun penuh kejutan. itulah yang dapat kuberikan usai hampir kuterima ajakannya. tadinya aku sudah berada pada telinga pintu. “sini.” ajaknya.
***
tawaku menyamai riuhnya lautan manusai pada pagelaran musik malam ini. dapat kulihat ia menatapku pada meja di ujung ruangan. sekali lagi kami hanya saling memberi senyum. dengan jelas kukatakan, “terima kash,” dalam hati.
—Kamis, 7 April 2022 pukul 20.02

No comments:
Post a Comment