Monday, February 28, 2022

angklung

what i listened to while i read this


eh, katanya, angklung cara dimainkannya itu dengan diguncang-guncangkan, ya?


iya


terus, agar nadanya saling melengkapi dan menghasilkan irama yang indah nan apik, tiap jenis angklung harus dipidsahkan, ya?


benar


artinya, hubungan kita akan menjadi laiknya angklung


hah, maksudnya?


maaf ya. selama ini rasanya kita selalu punya persoalan. dan baiknya, kalau kita berpisah barang sejenak. untuk me-refresh pikiran gitu


ah ngarang. justru aku ingin kita belajar dari segala masalah yang ada. dan kalau masalah perpisahan, toh pada akhir pertunjukan, angklung akan dikumpulkan dalam satu tempat, bersama, seirama, dan satu rasa


ih, pintar deh kamu


pacar siapa dulu?


memang pacar siapa? apa itu pacar?


oh iya, lupa tanya. kamu mau tidak jadi pacarku?


engga


ya sudah, aku ganti. sahabat siapa dulu?


nah, gitu dong. sahabat aku gitu loh. hahahaha



—Jumat, 5 November 2021 pukul 20.11

jujurly

what i listened to while i read this

kalau aku boleh jujur, kamu aneh.

kamu suka menatapku dengan mata segarismu, sambil mengulum senyum simpul di balik masker hitam yang kau kenakan itu.

terkadang kamu juga datang tak diundang. sedetik tiba di sebelahku.

kemudian hilang tanpa bayang. dan ternyata kamu ada di sudut sana, lagi-lagi dengan tatapan penuh arti itu.


kalau aku boleh jujur, aku tidak suka orang aneh.

kamu suka sekali membuatku terkejut ketika tanpa sengaja mata kita bertaut. 

dan aku benci saat di mana suara debar jantungku menyaingi ketukan jari yang menari di atas laptop. itu semua pun karena kamu.

kemudian saat aku telah menyiapkan amunisi mental untuk menyapamu, kamu malah menjauh dan membuat harapku jatuh.


dan kalau aku boleh jujur, kamu satu-satunya orang aneh yang aku suka.




—Minggu, 19 September 2021 pukul 20.09

dia dan ayunda bagian sebelumnya

what i listened to while i read this



“Ayunda,” Ia menyebut namaku di tengah lengangnya ritual makan es krim pada Minggu siang.


“Hm?”


“Aku capek main petak umpet, nih.”


Seperti biasa, aku selalu butuh waktu lebih untuk memahaminya. “Maksudnya?”


Gabriel, pria yang sedang berada di sebelahku saat ini lantas memutar tubuhnya sehingga berhadapan langsung denganku. Matanya yang tampak tak begitu lebar itu mulai memancarkan racunnya. Racun yang dapat serta merta membuatku terpaku. 


“Aku suka denganmu.”


Lelehan es krim vanilla di dalam mulutku meluncur pada jalur yang salah. Mengarahkan diriku pada kondisi tersedak. Agaknya lidahku pun tak percaya akan perkataan Gab barusan.


Dengan sigap ia memberiku tisu dan berlalu membeli air mineral agar keadaanku membaik.


Ketika langkahnya mulia menjauh, aku pun memanfaatkan waktu itu untuk berpikir. Lagi-lagi kubertanya-tanya. “Maksudnya?”


“Waktu 2 tahun ini sudah lebih dari cukup untuk memastikan kalau di sinilah tempatmu bersembunyi. Dan sekarang, lihat, kan, aku sudah menemukanmu,” meski dengan sedikit menundukkan pandangan, kata-kata yang ia keluarkan sudah cukup jelas bagiku. “Bukannya aku sok tahu. Tapi semua perilakumu, perkataanmu, dan apapun yang kamu hadirkan saat bersamaku, sungguh, aku tak dapat membendung rasa dalam hati ini.”


“Aku.. tidak tahu harus menjawab apa, Gab.”


Sekarang tatapan kami bertemu. Kulihat ia menarik kedua sudut bibir tipisnya yang menghasilkan senyum paling indah yang Tuhan izinkan aku untuk menikmatinya, meski untuk saat ini saja. 


“Kamu tidak perlu menjawab apapun. Hari esok adalah jawaban pasti untukkku.”


“Maksudnya?”


Disodorkannya sebuah tiket pesawat. Kertas itu menerangkan jadwal peberangkatan pukul 4 sore—“Besok.. kamu pergi?”


“Iya. Hanya sebentar, kok.”


Hal ini membuatku menangis seketika. 


“Loh kenapa, Da?”


Aku menjatuhkan diri pada bahunya. Sekarang tangannya telah melingkar padaku, seolah siap membentengiku dari segala kesedihan. Dan kugelengkan kepalaku dengan lemas. 


***


Sekembalinya pria yang telah kutunggu-tunggu kehadirannya selama 1 purnama ini, Gabriel hadir dari balik pintu taksi. Mobil hitam itu meninggalkan seseorang yang sangat kusayangi, yang sekarang berjalan lurus kepadaku. Kusambut ia dengan pelukan selamat datang yang sangat erat, untuk membalaskan dendam rindu yang kemarin tak terbendung.


Lantas aku menariknya menuju sebuah taman di sudut kota. Berhiasakan pita biru yang terikat indah, rambutku berkibas searah angin yang ramai bersepoi. Bersamaan dengan itu, tawa gemasnya pada kelakuan kekanak-kanakanku mengiringi langkah kami yang sedikit lebih cepat daripada jalan pada umummnya. Sesekali aku melepas tangannya dan meminta ia mengejarku. Kami pun tertawa lepas saat salah satu dari kami terjerembab pelan pada sebuah rumput yang lembut.


Kami berhenti ketika sama-sama lelah. Lelah menertawakan diri kami sendiri maksudnya. Diakhiri dengan keadaan terduduk lemas pada salah satu kursi taman, kami disuguhkan dengan kehadiran tanah lapang yang dikelompokkan menjadi 7 persegi membentuk sebuah layang-layang. 


“Ini namanya engklek, Gab.” Seolah membaca pikirannya, aku menjelaskan secara singkat bagaimana cara memainkan permainan masa kecilku ini. 


“Mainnya memang susah begitu ya?”


“Iya, dong. Kan selain menyenangkan, permainan ini juga bisa meningkatkan konsentrasi dan menjaga keseimbangan.”


Dia ber-oh pelan lantas berkata, “aku pengen coba deh.”


***


“Aduh, susah banget cara mainnya.”


Aku pun meyakinkannya, “Kamu pasti bisa kok.”


Tak sabar, lantas aku menyontohkannya gerakan melompat dengan satu kaki terangkat. Putaran pertama lancar berjalan, kedua, ketiga, dan saking menikmatinya diriku dengan permainan ini, rupanya sekarang jarak tubuhku sudah tak lebih dari 30 cm di atas tanah. Terjatuh bebas karena sebuah batu yang tiba-tiba saja hadir di kotak kedua permainanku.


Hap!


“Kamu gapapa kan?” 


Dengan terbata-bata, karena masih terkejut dengan kejadian barusan, aku mengindahkan pertanyaanya. 


“Beneran loh?” Ia menghela napas sebentar dan melanjutkannya dengan bukti dari rasa percayanya padaku. “Ya sudah, aku anggap beneran gapapa, ya.”


Kami pun saling tatap sejenak. Sejenak itu lah di mana rasanya perutku sesak oleh ribuan mariposa, dengan tabuhan tempo cepat di dalam dada, dan senyum yang merekah seindah bunga matahari di pagi hari. Aku senang dapat menatap mata indahnya yang dulu hanya menjadi angan. Dan sekarang kami sedang berada di dunia kami. Bersama-sama menjelajahi suasana baru, tatapannya yang teduh seolah memintaku untuk terus menyelam semakin jauh.


Jujurly kamu aneh.”


Ia mengangkat alisnya penasaran.


“Tapi aku suka orang aneh.”


Senyumnya membuat mataku lagi-lagi terpana.


“Tapi aku juga takut.”


“Takut kenapa?”


“Aku takut hal yang tak baik terjadi.”


“Maksudnya?”


Aku menundukkan pandanganku, “Aku takut kehilanganmu.”


"Tenang saja. Semoga tidak ada kata pisah di antara kita, ya."


Kujawab dengan anggukan singkat dan senyum getir. Aku tak yakin, tapi aku berharap hal yang sama.




—Sabtu, 30 Oktober 2021 pukul 10.24

ditulis dalam beberapa waktu terpisah. hari yang tertera adalah waktu di mana bagian pamungkas cerita diselesaikan.

dia dan ayunda

what i listened to while i read this

orang yang pernah aku buatkan prosa biasanya berakhir mati rasa. dan sekarang sudah ada hampir empat sajak tentangnya, tiga hari tak jumpa, dua pikiran berbeda, dan satu keyakinan kalau semua ini fana. maaf ya. 


***


“Aku nggak bisa, Gab!”


Ia menaruh kedua tangannya pada bahuku seolah tangan itu dapat mengalirkan keyakinannya yang kontra.


“Bukan kamu yang nggak bisa, Da. Tapi kamu aja yang nggak mau,” Helaan napasnya memberi jeda. “Kamu sendiri yang memberi boundary itu.”


Aku menggeleng lemas. Air mataku jatuh untuk membalas semua kata-katanya. 


“Kalau semua ini tidak terjadi, mau kah kau tetap di sini? Apakah kehadiranku selama ini tak sedetik pun berarti?” 


Dengan mata penuh penyesalan itu ia menjawab, “seandainya kamu tahu—“


“Gab, tolong berhenti menjelaskan hal yang bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kita. Aku ingin jawaban pasti darimu. Iya, atau tidak?”


“Maafkan aku, Ayunda.”


Kucabut seluruh kepercayaan yang selama ini aku titipkan padanya. “Ya sudah. Terima kasih ya. Terima kasih sudah menjadi dirimu, terima kasih telah menemaniku, terima kasih untuk seluruh kejujuranmu.”


Suaranya yang parau mengiringi anggukan iya itu. Kami pun saling menjauh semenit kemudian. Aku pergi, dengan segenggam rasa sedih dan lara. Biarlah kubawa untuk menjadi pajangan pada salah satu sudut hatiku. Agar aku tak lagi mengunjungi tempat yang tidak baik itu. 


***



benar kok waktu itu aku pergi. dan benar juga kalau kodrat manusia punya rasa keingintahuan yang tinggi, juga mudah bosan. kamu nggak salah karena pergi dariku. aku pun nggak salah karena menangisi singkatnya persinggahanmu kala itu. pokoknya kalau ada apa-apa, selalu ingat yang di atas. Dia punya hak lebih untuk menentukan ke mana kita akan pergi, atau kembali. 


***

what i listened to while i read this (2)

“Jadi ada apa? Eh, maksudku,” aku berdeham pelan untuk menetralkan suaraku yang seharusnya tergagap-gagap, karena pertemuan kami yang perdana usai hari itu. “Apa kabar?”


“Eh, eumm, aku baik. Aku cuma mau memberi ini padamu.” Disdorkannya sebuah kotak berwrna biru langit dengan pita putih yang bertengger indah di atasnya.


Tangan kananku terjulur untuk mengambilnya. “Ini untuk apa?”


“Untuk kamu terima.” Mukanya yang teduh menampilkan senyum yang hangat. “Kalau begitu, aku pamit dulu, ya. Terima kasih.”


Aku mengangguk pelan.


***


kotak yang ada di depanku sekarang telah terbuka. di atas beberapa benda yang ada terdapat kertas, “manifestasi rasa”


aku mengenyritkan dahi sejenak. 


“hai ayunda. apa kabar? semoga baik-baik saja ya. 


aku tidak tahu harus memulai dengan apa surat ini. tapi aku hanya ingin bilang kalau aku rasa.. aku memanglah pihak yang bersalah di sini. aku tidak berusaha untuk menjelaskan padamu apa yang sebenarnya terjadi di hari itu. aku adalah pengeut di dalam kejamnya dunia ini. aku memang.. sepertinya tak pantas untuk kelak mengajakmu bertualang menghadapi dunia yang luas nan penuh kejutan. perpisahan kita ini, jugalah sebuah kejutan yang sanggup mengguncangku tak karuan.


setelah kamu membaca ini, aku harap kamu juga berkenan menonton 4 dvd yang aku sisipkan di tiap halaman buku yang ada di dalam kotak ini. bersaman dengan itu, aku juga sudah taruh sekotak pocky choco-oreo, rasa kesukaanmu bukan? hehe. 


kalau begitu, sampai sini aja ya. terima kasih sudah berkenan membaca. terima kasih karena kamu sudah menyempatkan waktu berhargamu untukku yang bahkan sudah tak berperan penting bagimu. maaf ya. sampai jumpa lagi, jika berkesempatan.


—gab”


rinai gerimis di luar menyertai jatuhnya air dari sudut mataku.




—Selasa, 19 Oktoer 2021 pukul 13.30

ditulis dalam beberapa waktu terpisah. hari yang tertera adalah waktu di mana bagian pamungkas cerita diselesaikan.

kelas sejarah

what i listened to while i read this

aku menyandarkan diri pada sebuah kursi di sudut ruangan. kelas sejarah tengah berlangsung khidmat dengan pak guru sebagai narator utamanya. derasnya udara pendingin ruangan yang mengalir lurus padaku membuat tubuhku bergidik. napas berat mengiringi tangan kanan yang kujulurkan untuk menjawab pertanyaan singkat si bapak. atensi penuh dari satu kelas diberikan secara cuma-cuma sepersekian detik kemudian. pak guru mempersilakanku untuk mengeluarkan isi pikiran ini dengan pointer yang digenggam oleh jari-jari tangan kirinya. beberapa menit kugunakan untuk menjawab, yang dibalas anggukan setuju dan ucuran tepuk tangan dari kawan seisi ruangan. semua kepala yang tadinya diarahkan padaku kini telah kembali pada pemimpin diskusi di kelas ini, yakni pak guru. 


begitulah keseharianku. tapi ada bagian kecil yang belum aku ceritakan dari keseluruhan cerita duduk di kelas sejarah itu. 


sebelum memasuki kelas, yang perlu diketahui bahwasannya kami menerapkan kelas berpindah, maka kami, aku dan teman-teman mesti menunggu sejenak agar kelas benar-benar kosong dari siswa kelas lain. dinamisnya pergerakan warga sekolah menjadi pemandangan harianku di sekolah ini. beberapa kali kulipat senyum simpul dengan menyapa tiap nama teman yang berjalan di depanku. beberapa dari mereka membalasnya dengan riang, sisanya memperlihatkan wajah letihnya usai seharian penuh menerima banyak materi ilmu pengetahuan. hal tersebut sudah kumaklumi. lift yang terbuka dan tutup memuntahkan juga melahap guru yang silih berganti rupa. pada jam-jam tertentu para petugas kebersihan juga hadir di antara kami untuk memastikan kehigienisan lingkungan sekolah.


tapi kali ini pemandangnan unik di deapnku menyita perhatian. rinai hujan yang dipadukan dengan terangnya mentari di siang hari menghasilkan bau tanah lembut memasuki indra penciuman siapapun yang merasakannya. beberapa sudut sekolah pun indah dihiasi segaris pelangi hasil dispersi cahaya oleh sang tirta. kupejamkan mata sejenak. tak sadar rasa tenang hadir. rasa syukur yang raksasa atas sesuatu yang sesederhana ini mengingatkanku atas keagungan-Nya. 


namaku disebut dari jarak semeter. kelas telah berganti penghuni dan separuh lebih dari teman kelasku telah menyiapkan diri di bangku masing-masing. menyisakan aku dan sahabat sejawat perempuanku yang sedari tadi menunggu temannya yang sibuk sendiri dengan petrichor. aku pun mengikutinya laiknya sang anak ayam mengekor pada induknya. saat kumasuki ruangan, pak guru juga tengah berjibaku di hadapan papan tulis dengan menekan dan menggulirkan layar presentasinya. aku memberinya salam dengan timbal balik yang ceria. atau setidaknya perlu kukatakan, “harus ceria”. yang pasti, ia merupakan guru terhebat atas seluruh tanggung jawab yang ia ampu pada kedua bahunya. sebagai bentuk hormat, aku berusaha sebisa mungkin untuk meringankan bebannya dengan tidak melakukan hal yang menambah bebannya. ya, semoga kalian paham.


bangku-bangku kosong di bagain belakang kelas dipersembahkan langsung untuk kami yang bukan merupakan pendatang awal masa pergantian kelas. walhasil aku dan temanku duduk terpisah 2 bangku meski kami berada di satu barisan yang sama. sebuah laptop keluaran apple kukeluarkan  dari ransel sebagai amunisi untuk menyerap ilmu sejarah yang akan diwariskan oleh bapak pengajar kami. kusatukan kedua tangna unutk bermunajat kepada Sang Pencipta, berharap akan kemakmuran dan hidup yang sejahtera, lantas diakhiri kata amin sebagai penanda akan dimulainya kelas ini.


konsentrasiku penuh pada penjelasan bapak guru di tengah-tengah ruangan. ia bercerita tentang sesuatu. banyak hal adalah bentuk dari kata sesuatu itu. aku tak dapat mengingatnya penuh karena jujur saja, aku akan berbicara ketika aku memang beanr-benar memiliki kewajiban untuk berbicara. selain itu, berbicara menurutku hanya akan menyisakan rasa sesal. oh tidak, bukan sesal, melainkan ia akan menjadi ibu dari anak-anak pikiran di malam sebelum lelap. aku akan mempertanyakan harga dari kata-kata yang kulontarkan pada hari itu. apakah ucapanku membawa kebaikan, berbau netral, atau tidak ada sama sekali faedahnya? 


ruangan penuh oleh pikiran dan kosongnya suara dari teman-teman. semua terdiam selagi guru kami melaksanakan amanahnya. mereka menampilkan berbagai gaya belajarnya di kelas ini. ada yang melipat tangannya serius dengan tatapan lurus, adapun yang tertunduk lemas terlampau keras rasa kantuknya. sedangkan aku, seperti yang telah kalian tahu, kurgangkan punggung dan menyamankan posisi diri pada kursi abu berukuran sedang ini. 


tatapan jahil beberapa teman lelaki kadang terlayangkan, dan pastinya tertangkap basah olehku, di tengah-tengah keberlangsungannya kelas. mereka adalah yang kusebut teman. benar, hanya teman. aku tak ingin memberi juga menerima hati mereka. aku sadar akan kemampuanku yang belum mumpuni, atau singkatnya aku belum siap, untuk merasakan jatuh hati. sebab di dalam hidup terdapat sebuah keseimbangan di mana rasa senang akibat jatuh hati kelak akan menghasilkan patah hati yang sama besarnya. aku masih terlalu muda untuk menangisi seorang pria. jadi kuputuskan, aku akan terus melajang selama tidak ada yang berani datang pada orangtuaku dan meminta izin secara langsung untuk menjagaku di masa depan dengan segala jaminannya. aku tahu ini mungkin terlihat mustahil bin tidak mungkin. tapi Tuhan tahu yang terbaik.


oke, kembali ke kelas sejarah.


kelas kami berlangsung sampai toa masjid mengumandangkan tanda masuknya ibadah ashar. setelah doa penutup dipanjatkan oleh seluruh isi kelas, ruangan ini menghamburkan sebagian besar siswa yang haus akan kenyamanan asrama. menyisakan sedikit dari mereka yang masih memiliki keperluan lain di sekolah.


tamat. begitulah separuh dari keseharianku di sekolah. sebenarnya itu hanya gambaran 2 jam pelajaran yang kujabarkan singkat berdasarkan sudut pandangku yang juga sempit. maksudku, aku tidak seaktif si pemilik kursi depan, pun sediam anak meja tengahan. aku hanyalah aku yang berusaha sekuat mungkin untuk menyeimbangkan kecepatan belajar otak para teman jeniusku di sekolah ini. dan semoga gambaran singkat ini dapat memberi manfaat, setidaknya pelajaran sederhana buat kalian semua pembacaku tercinta. selamat hari ini dan sampai jumpa lagi.




—Minggu, 28 Februari 2022 pukul 13.26

aku adalah peran figuran

what i listened to while i read this panggilan sayang pegangan tangan perhatian rasa aman dan nyaman berbagi es krim kesukaan berteman bisa ...