Sunday, April 10, 2022

aku


“kamu cantik.” 


kutelengkan kepalaku untuk benar-benar dapat memahami apa yang ia katakan.


ialah pria yang kulihat penampilannya pada pagelaran musik semalam. kami tak pernah berjabat tangan atau bahkan saling mengetahui sebelumnya. ia pun sebelumnya berkata kalau mengenalku dari salah satu kawannya. 


aku menatapnya heran dan berkata, “salam kenal.”


karena aku tak tahu harus berkata apa lagi, aku berpamitan. sebelum aku sempat melangkah, bibir tipisnya mengucap salam. 


“wa’alaikumussalam.” jawabku singkat. ‘memang sedikit aneh. tapi kurasa tak apa.’


***


kepalaku tertanam pada buku di hadapan. baru tercabut setelah seorang dari teman sekelasku menaruh satu kotak susu pada sisi kanan meja. “titipan dari si itu.”


kuanggukkan kepalaku dua kali lantas kusapukan pandanganku pada isi kelas. kutangkap ia tengah menatapku melalui celah pintu kelas yang terbuka sebesar 10 cm. saat tanganku hendak melambai, gerakan larinya dari pandanganku membuatku terkejut dan mengurungkan niat. aku tersenyum kemudian. 


***


kami biasanya akan saling sapa di antara pukul lima. hal itu dikarenakan kegiatan kami yang berjadwal sama. tapi hari ini tak kulihat sedetik pun batang hidungnya. tapi tak apa, kurasa sehari bertemu juga bukan masalah.


***


baiklah, sifat anehnya kali ini tak dapat dimaklumkan. ‘ke mana perginya ia?’


***

esoknya kami bertemu tapi dan ada lagi ragu dalam diriku. ia dikabarkan telah berubah. dan kami saling paham. maka aku pun mengikuti skenarionya. lagi-lagi apa yang belum dimulai telah selesai. dan takkan pernah lagi untuk membuka hati. terima kasih.




—Minggu, 10 April 2022 pukul 21.12

Thursday, April 7, 2022

sempat

what i listened to while i read this

kami bercengkrama asyik pada salah satu aplikasi berbalas pesan. alkisah tembok besar cina yang didirikan berabad-abad lalu, sepanjang itulah gelaran balon ucapan kami jika dihitung sejak kami berkenalan tahun lalu. tak ada yang salah di sini. hanya aku dan dia. dan juga orang-orang yang terkadang berlalu menjadi bahan perbincangan kami. dan juga beberapa lagi yang kadang berkaitan dengan kami namun tak pernah sedetik pun kami ucap namanya, malahan dihindari. “berbahaya.”


tak kurasai laiknya sawi hijau pada kebun sekolah yang tumbuh subur, sepertinya ada pula yang menyamainya. tumbuh di antara pesan “hehe” penutup percakapan malam itu. dan juga “hehe” lainnya yang kubalas cepat meski tanpa ada maksud tersirat.


tak ada yang salah di antara kami. aku yang membawa segenggam luka dan ia sang tamu yang rupanya berharap dapat mejadi penyembuhku. “namun sepertinya luka ini telah sampai pada titik sekarat, bro.” ujarku lirih meski sapaan nyaman masih terberikan.



ia tak membalas meski sebuah aksara. tapi ia tersenyum. tangan yang dipergunakan sebagai penyangga pada dagunya ia letakkan kemudian, dan ia kembali berjibaku dengan dunianya. tenang namun penuh kejutan. itulah yang dapat kuberikan usai hampir kuterima ajakannya. tadinya aku sudah berada pada telinga pintu. “sini.” ajaknya.


***


tawaku menyamai riuhnya lautan manusai pada pagelaran musik malam ini. dapat kulihat ia menatapku pada meja di ujung ruangan. sekali lagi kami hanya saling memberi senyum. dengan jelas kukatakan, “terima kash,” dalam hati.




—Kamis, 7 April 2022 pukul 20.02

Tuesday, April 5, 2022

sabar

what i listened to while i read this



debur ombak menyiratkan sejumput airnya

asin kristal sedikit tertanam pada wajahku yang langsung berhadapan dengan samudra

jingga siluet horizontal menemani kesendirian ini

aku tertanam nyaman pada pinggiran mulut pantai

sesekali tangnku meraih segenggam pasir putih di sebelahku

lantas kulempar jauh, yang berujung tak jauh dari perginya ia dari pikiranku

beberapa kali kulakukan hal yang sama, hasilnya pun persis

padahal aku tahu

seharusnya aku yang pergi dari tempat ini

aku tidak akan pernah bisa mengusir pasir dari pantainya

memang di sinilah ia singgah

kenapa aku masih bertahan jika melihatnya saja sudah buat mual?

telanjur nyaman, atau terlampau nyaman?

memang tidak mudah, tapi cobalah

kita tidak akan tahu, barangkali, besok akan ada yang menjemputmu

meraih tanganmu lembut sembari mengajakmu untuk beranjak 

menuju keabadian. penuh akan hal yang tak akan tergantikan

tenang, ia akan datang

kamu hanya perlu bersabar



—Rabu, 1 Desember 2021 pukul 20.46 

aku adalah peran figuran

what i listened to while i read this panggilan sayang pegangan tangan perhatian rasa aman dan nyaman berbagi es krim kesukaan berteman bisa ...