what i listened to while i read this
“kenapa, ya, kita nggak se-asyik dulu?”
diam adalah jawabanku. sembari menggerakkan kaki menyibak pasir pantai, aku menatap lautan kosong. tidak juga, sih, sebenarnya. ada deburan ombak, ikan yang berdansa bersama ribuan makhluk hidup ukuran mikro di sekitarnya, burung yang usil mengepakkan sayapnya pada permukaan air, barangkali berharap ada ikan yang mau menerima salamnya, dan lainnya.
“yang,” ia memanggilku lembut.
“maaf.”
sekarang ia bangkit. setelah menepuk-nepuk pakaiannya yang masih tertempel beberapa kerang dan kerikil, tangannya menjulur padaku. sigap kuterima dan sekarang aku telah berdiri di hadapannya. dengan masih berpengangan tangan, tangannya yang lain turut serta memeluk genggaman kami. aku pun mengikuti.
air mataku pecah. tak dapat lagi kubendung perasaan ini. aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. aku bingung, sedih, takut, marah, entahlah, yang pasti aku merasa bersalah.
kuucapkan maaf kedua kalinya.
ketiga.
keempat.
aku merasakan kehangatan telapak tangannya yang membasuh pipiku. ia pun sempat menyibak anak rambutku untuk menyambut duka dan luka dari air mata yang tak kunjugn reda. “jangan menangis, sayang,” matanya menatapku lekat. “ini bukan salahmu.”
‘dan bagaimana bisa dirinya membuatku semakin jatuh cinta meski di sisi lain aku terus membuatnya kecewa.’
“kenapa Tuhan harus mengirimkan orang sebaik kamu buat aku? lihatlah, sekarang semakin jelas, bukan, aku tidak pantas buat mendampingi hari-hari menyenangkan dan segala mimpi indahmu itu.”
“kita bisa. pasti bisa.”
“bagaimana kamu bisa percaya?”
“lalu kamu maunya apa?”
bahuku naik-turun membersamai berisiknya pikiranku. tapi aku diam.
—Senin, 19 September 2022 pukul 21.26
No comments:
Post a Comment