Friday, October 21, 2022

(may) i write u

what i listened to while i read this

“i mean, i write about you,” ujarku malu-malu. dalam hatiku berkembang harapan akan antusias yang ia hadirkan sebagai jawaban. 


ia ber-oh panjang. 


ya, hanya, “oooh.”


“nggak ada keperluan lagi, kan?” aku menunduk kecewa. pupus sudah anganku untuk mendapat sambutan hangat atas manifestasi rasa sayangku padanya. “ya sudah, aku pergi dulu, ya. ada janji.”


sebelum tubuhku berbalik 180’ penuh, ia meraih jemari kananku dan menggenggamnya erat—jaga-jaga mana tahu aku akan lari dari jangkauannya. aku menatapnya masygul meski dengan mimik wajah yang dibuat-buat tenang. mataku yang bulat sekarang berada sejengkal jaraknya dari senyum simpul itu. tangan kosong satunya pun ikut berhomolog pada tanganku yang lain.


kami hanya diam sambil masih bergandengan tangan, dan saling tatap. 


“aku harus beralasan apa dengan klienku nanti jika aku terlambat datang? ada keperluan negara untuk mengapresiasi ciptaan Tuhan yang tiada tara indahnya?” ujarku beberapa detik kemudian.


semerah sambal uleg wedangan bu etik, pipinya ikut menggembung dengan senyum yang semakin merekah. aku tidak tahu apa maksudnya menahanku seperti ini. aku kesal, tapi aku juga menikmatinya. setiap nanodetik bersamanya bukanlah tidak berarti melainkan hal yang sangat aku syukuri. 


barangkali aku boleh request kepada Tuhan, banyak hal yang ingin aku koreksi dari kehadirannya. tapi dengan berdirinya ia sekarang, seolah semua angan itu ikut berlalu bersama angin yang membawa kesejukan taman di sore ini. 


“dengan atau tanpa tulisanmu, aku tidak bisa lagi berkata-kata atas kenikmatan yang selalu ada ketika aku bersamamu,” tatapannya lurus padaku. “maaf ya, sayang.”


kuanggukkan kepala sambil terkekeh kecil. ‘alasan klasik bagi mereka yang tidak mengerti sastra dan hanya peduli pada penelitian penuh hipotesis dan percobaan yang menghasilkan dasar hukum mutlak dan dipuja seluruh umat sampai suatu saat ada nabi baru dari sebuah formula. sangat berkebalikan denganku. tapi itulah yang membuatku selalu gemas ingin mengajaknya lebih jauh berlayar menyusuri tiap sudut dunia ini. mungkin inilah yang dikatakan hitam dan putih, kanan dan kiri, utara dan selatan. kami tidak akan bisa benar-benar menyatu, tapi kami akan terus berjalan berdampingan, saling melengkapi.’


“ya, ya. dimaafkan."



—Jumat, 21 Oktober 2022 pukul 10.23

No comments:

Post a Comment

aku adalah peran figuran

what i listened to while i read this panggilan sayang pegangan tangan perhatian rasa aman dan nyaman berbagi es krim kesukaan berteman bisa ...