what i listened to while i read this
mereka bilang, “kami sudah. kamu kapan?”
aku pun menatap lama diriku dalam bayangan cermin di hadapan. “benar. aku kapan ya?”
seolah setuju dengan parameter tak berdasar ini, perlahan tapi pasti, bayanganku mulai menautkan alisnya dan memberiku tatapan tajam—menuntut.
kuedaran pandanganku pada sekeliling. gelap. luas tak berujung—sepertinya. aku ingin mencoba berjalan mencari pangkal ruangan ini. selangkah kupijakkan kaki, aku pelan beranjak. kemudian,
hap!
tangan duplikatku pada cermin menahanku untuk pergi.
aku harus pergi.
dan benar saja, lima menit berselang, perjalanan ini rupanya tak semenakutkan itu. remang-remang cahaya berangsur-angsur berbinar, menjadi aksesori indah laiknya butiran bintang di malam purnama terang.
aku melihat kebaikan.
saat kutengokkan kepalaku pada cermin yang sudah jauh di belakang, benda setinggi dua meter itu sudah lenyap. sekali lagi kumengerjapkan mata untuk memastikan, rupanya benar.
bayang-bayang buruk itu fana. cahaya memberiku harapan untuk menjauh dari bayangan yang gelap.
tak ada yang hal yang buruk. ini hanya tentang bagaimana kamu menghadapinya.
kamu tak perlu dengarkan bisingnya macet arteri kota kalau kamu bisa memasang airpods mu. terlihat apatis memang. tapi apakah tidak lebih jahat jika kamu memaksakan kehendakmu sendiri untuk terus memberikan kesempatan mereka mengambil alih, lantas membairkan dirimu sendiri terseok-seok mengamini titah tersebut?
—Minggu, 13 Februari 2022 pukul 19.39
No comments:
Post a Comment