Sunday, March 27, 2022

harap

what i listened to while i read this

kring!



sebuah bel yang tepat berada di atas pintu berdenting membersamai langkahku menuju meja kasir sekaligus tempat utama pemesanan minuman. segelas kupesan dan semenit kemudian pantatku telah menduduki kursi pada salah satu meja di sisi terdalam toko kopi ini. kemudian kesapukan pandangan, berharap ia datang tanpa perlu harapkan. ya, dia tak seperasa itu untuk membaca suasana hatiku. atau jangan-jangan aku yang terlalu banyak berbicara dengan kode? entah siapa yang salah. yang pasti, aku merindukannya dan yang kuinginkan saat ini hanyalah pertemuan. 


sudah tiga tahun sejak kelulusan kami dari sekolah menengah. bukannya tak bisa dihitung jari karena jumlah yang banyak, melaikan tak pernah sekalipun ada inisiatif darinya unutk mengajakku bertemu usai wisuda hari itu. didukung dengan perginya kami kepada masing-masing mimpi di berbeda negeri, membuat hubungan ini tak tahu harus dimaknai apa lagi. 


beruntungnya kemarin aku mendapatkan cuti yang lebih dari biasanya, dan mempersilakanku untuk juga meluangkan waktu menyapa teman-teman lamaku. sebenarnya ada banyak di luar sana kolega yang hendak kutemui. tapi sepertinya ada seorang yang menjadi nomor satu di dalam hatiku. 


tak usah kau tanya bagaimana dengan perasaannya padaku. ia merupakan anak kurang tahu diri yang kukira bahkan tak akan mengabariku jika tak ada hujan kucing di negara tempat ia tinggal. huft.


setengah jam, 30 menit, 1800 detik, aku masih terpaku di tempat. punggungku yang tak kuasa menahan beban harapan akhirnya pun layu dan kepalaku dengan nyaman kutaruh pada dua tangan di atas meja. aku memandangi dunia bawah. dua sepatu, lantai cokelat muda bercorak kayu tipis-tipis yang memberi kesan natural, kaki meja yang tegak menjulang, dan—


kring!


ini adalah lonceng kesekain belas terhitung sejak aku pertama kali masuk. dengan susah payah aku urungkan niat untuk menengok pada sumber suara. “mana muungkin ia akan datang teapt waktu. katanya saja ia sedang ada acara. jika aku melihat kehadirannya setengah jam setelah ini, aku pasti sudah berada pada posisi sujud syukur. kalau tidak, ya sudah, aku pupus. pulang.”


sekarang jam telah menunjukkan pukul 10 pagi. semalam dalam aplikasi berbalas pesan kami membuat janji temu pada pukul 9.45. entah karena terlalu besarnya rasa rindu atau bagaimana, namun diri ini telah siap bertemu bahkan datang sebelum waktu yang telah ditentukan, yakni 9.30. aku tahu ini bodoh. untuk apa pula kusia-siakan 15 menitku untuk menunggu lebih awal si tanpa kepastian ini. untuk apa aku bermimpi diberi ikatan yang pasti. haduh, dasar si banyak khayal.


aku merasakan kehadiran seseorang di depanku. tapi rasa kantukku kali ini menang. maka aku memilih pergi untuk masuk ke alam mimpi. 


entah berapa lama aku tertidur, namun saat kutegakkan badan, di depanku ia telah hadir dan tangannya yang sibuk pada telepon genggam di depan muka seketika ia pindahkan sehingga tatapan kami bertemu. netra cokelat itu memberiku kekuatan untuk berkunjung ke masa lampau, mengingat semua hal yang telah kita lakukan dan akan terus terkenang.


“akhirnya. sudah bangun?”


“dari tadi, ya? sorry,”


“gapapa. aku yang seharusnya minta maaf. aku terlambat datang dan bikin kamu nunggu. maaf ya.”


kuanggukkan kepala kikuk. lama tak bersua membuatku membutuhakn waktu lebih untuk menyesuaikan diri. apalagi penampilannya yang sedikit berbeda, meski sekilas aku amsih dapat mengenalinya.


pria berkacamata di depanku memulai kembali percakapan. “jadi.. mau pergi? aku tahu tempat bagus di sekitar sini.”


mataku berkedip beberapa kali utnuk memastikan bahwa apa yang baru saja ia ucapkan bukanlah bagian dari bunga tidurku. maksudku, memang, aku berharap ia datang dan kami dapat bersama bernostalgia. tapi jalan-jalan dengannya.. tak pernah sekilaspun terlintas di benak.


pada akhirnya aku mengiyakan ajakannya yang berbuah manis karena ia memberiku senyuman simpul.


masih dapatkah aku berharap padanya?




—Minggu, 27 Maret 2022 pukul 20.05

No comments:

Post a Comment

aku adalah peran figuran

what i listened to while i read this panggilan sayang pegangan tangan perhatian rasa aman dan nyaman berbagi es krim kesukaan berteman bisa ...