what i listened to while i read this
orang yang pernah aku buatkan prosa biasanya berakhir mati rasa. dan sekarang sudah ada hampir empat sajak tentangnya, tiga hari tak jumpa, dua pikiran berbeda, dan satu keyakinan kalau semua ini fana. maaf ya.
***
“Aku nggak bisa, Gab!”
Ia menaruh kedua tangannya pada bahuku seolah tangan itu dapat mengalirkan keyakinannya yang kontra.
“Bukan kamu yang nggak bisa, Da. Tapi kamu aja yang nggak mau,” Helaan napasnya memberi jeda. “Kamu sendiri yang memberi boundary itu.”
Aku menggeleng lemas. Air mataku jatuh untuk membalas semua kata-katanya.
“Kalau semua ini tidak terjadi, mau kah kau tetap di sini? Apakah kehadiranku selama ini tak sedetik pun berarti?”
Dengan mata penuh penyesalan itu ia menjawab, “seandainya kamu tahu—“
“Gab, tolong berhenti menjelaskan hal yang bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kita. Aku ingin jawaban pasti darimu. Iya, atau tidak?”
“Maafkan aku, Ayunda.”
Kucabut seluruh kepercayaan yang selama ini aku titipkan padanya. “Ya sudah. Terima kasih ya. Terima kasih sudah menjadi dirimu, terima kasih telah menemaniku, terima kasih untuk seluruh kejujuranmu.”
Suaranya yang parau mengiringi anggukan iya itu. Kami pun saling menjauh semenit kemudian. Aku pergi, dengan segenggam rasa sedih dan lara. Biarlah kubawa untuk menjadi pajangan pada salah satu sudut hatiku. Agar aku tak lagi mengunjungi tempat yang tidak baik itu.
***

benar kok waktu itu aku pergi. dan benar juga kalau kodrat manusia punya rasa keingintahuan yang tinggi, juga mudah bosan. kamu nggak salah karena pergi dariku. aku pun nggak salah karena menangisi singkatnya persinggahanmu kala itu. pokoknya kalau ada apa-apa, selalu ingat yang di atas. Dia punya hak lebih untuk menentukan ke mana kita akan pergi, atau kembali.
***
what i listened to while i read this (2)
“Jadi ada apa? Eh, maksudku,” aku berdeham pelan untuk menetralkan suaraku yang seharusnya tergagap-gagap, karena pertemuan kami yang perdana usai hari itu. “Apa kabar?”
“Eh, eumm, aku baik. Aku cuma mau memberi ini padamu.” Disdorkannya sebuah kotak berwrna biru langit dengan pita putih yang bertengger indah di atasnya.
Tangan kananku terjulur untuk mengambilnya. “Ini untuk apa?”
“Untuk kamu terima.” Mukanya yang teduh menampilkan senyum yang hangat. “Kalau begitu, aku pamit dulu, ya. Terima kasih.”
Aku mengangguk pelan.
***
kotak yang ada di depanku sekarang telah terbuka. di atas beberapa benda yang ada terdapat kertas, “manifestasi rasa”
aku mengenyritkan dahi sejenak.
“hai ayunda. apa kabar? semoga baik-baik saja ya.
aku tidak tahu harus memulai dengan apa surat ini. tapi aku hanya ingin bilang kalau aku rasa.. aku memanglah pihak yang bersalah di sini. aku tidak berusaha untuk menjelaskan padamu apa yang sebenarnya terjadi di hari itu. aku adalah pengeut di dalam kejamnya dunia ini. aku memang.. sepertinya tak pantas untuk kelak mengajakmu bertualang menghadapi dunia yang luas nan penuh kejutan. perpisahan kita ini, jugalah sebuah kejutan yang sanggup mengguncangku tak karuan.
setelah kamu membaca ini, aku harap kamu juga berkenan menonton 4 dvd yang aku sisipkan di tiap halaman buku yang ada di dalam kotak ini. bersaman dengan itu, aku juga sudah taruh sekotak pocky choco-oreo, rasa kesukaanmu bukan? hehe.
kalau begitu, sampai sini aja ya. terima kasih sudah berkenan membaca. terima kasih karena kamu sudah menyempatkan waktu berhargamu untukku yang bahkan sudah tak berperan penting bagimu. maaf ya. sampai jumpa lagi, jika berkesempatan.
—gab”
rinai gerimis di luar menyertai jatuhnya air dari sudut mataku.
—Selasa, 19 Oktoer 2021 pukul 13.30
ditulis dalam beberapa waktu terpisah. hari yang tertera adalah waktu di mana bagian pamungkas cerita diselesaikan.
No comments:
Post a Comment