Monday, February 28, 2022

dia dan ayunda bagian sebelumnya

what i listened to while i read this



“Ayunda,” Ia menyebut namaku di tengah lengangnya ritual makan es krim pada Minggu siang.


“Hm?”


“Aku capek main petak umpet, nih.”


Seperti biasa, aku selalu butuh waktu lebih untuk memahaminya. “Maksudnya?”


Gabriel, pria yang sedang berada di sebelahku saat ini lantas memutar tubuhnya sehingga berhadapan langsung denganku. Matanya yang tampak tak begitu lebar itu mulai memancarkan racunnya. Racun yang dapat serta merta membuatku terpaku. 


“Aku suka denganmu.”


Lelehan es krim vanilla di dalam mulutku meluncur pada jalur yang salah. Mengarahkan diriku pada kondisi tersedak. Agaknya lidahku pun tak percaya akan perkataan Gab barusan.


Dengan sigap ia memberiku tisu dan berlalu membeli air mineral agar keadaanku membaik.


Ketika langkahnya mulia menjauh, aku pun memanfaatkan waktu itu untuk berpikir. Lagi-lagi kubertanya-tanya. “Maksudnya?”


“Waktu 2 tahun ini sudah lebih dari cukup untuk memastikan kalau di sinilah tempatmu bersembunyi. Dan sekarang, lihat, kan, aku sudah menemukanmu,” meski dengan sedikit menundukkan pandangan, kata-kata yang ia keluarkan sudah cukup jelas bagiku. “Bukannya aku sok tahu. Tapi semua perilakumu, perkataanmu, dan apapun yang kamu hadirkan saat bersamaku, sungguh, aku tak dapat membendung rasa dalam hati ini.”


“Aku.. tidak tahu harus menjawab apa, Gab.”


Sekarang tatapan kami bertemu. Kulihat ia menarik kedua sudut bibir tipisnya yang menghasilkan senyum paling indah yang Tuhan izinkan aku untuk menikmatinya, meski untuk saat ini saja. 


“Kamu tidak perlu menjawab apapun. Hari esok adalah jawaban pasti untukkku.”


“Maksudnya?”


Disodorkannya sebuah tiket pesawat. Kertas itu menerangkan jadwal peberangkatan pukul 4 sore—“Besok.. kamu pergi?”


“Iya. Hanya sebentar, kok.”


Hal ini membuatku menangis seketika. 


“Loh kenapa, Da?”


Aku menjatuhkan diri pada bahunya. Sekarang tangannya telah melingkar padaku, seolah siap membentengiku dari segala kesedihan. Dan kugelengkan kepalaku dengan lemas. 


***


Sekembalinya pria yang telah kutunggu-tunggu kehadirannya selama 1 purnama ini, Gabriel hadir dari balik pintu taksi. Mobil hitam itu meninggalkan seseorang yang sangat kusayangi, yang sekarang berjalan lurus kepadaku. Kusambut ia dengan pelukan selamat datang yang sangat erat, untuk membalaskan dendam rindu yang kemarin tak terbendung.


Lantas aku menariknya menuju sebuah taman di sudut kota. Berhiasakan pita biru yang terikat indah, rambutku berkibas searah angin yang ramai bersepoi. Bersamaan dengan itu, tawa gemasnya pada kelakuan kekanak-kanakanku mengiringi langkah kami yang sedikit lebih cepat daripada jalan pada umummnya. Sesekali aku melepas tangannya dan meminta ia mengejarku. Kami pun tertawa lepas saat salah satu dari kami terjerembab pelan pada sebuah rumput yang lembut.


Kami berhenti ketika sama-sama lelah. Lelah menertawakan diri kami sendiri maksudnya. Diakhiri dengan keadaan terduduk lemas pada salah satu kursi taman, kami disuguhkan dengan kehadiran tanah lapang yang dikelompokkan menjadi 7 persegi membentuk sebuah layang-layang. 


“Ini namanya engklek, Gab.” Seolah membaca pikirannya, aku menjelaskan secara singkat bagaimana cara memainkan permainan masa kecilku ini. 


“Mainnya memang susah begitu ya?”


“Iya, dong. Kan selain menyenangkan, permainan ini juga bisa meningkatkan konsentrasi dan menjaga keseimbangan.”


Dia ber-oh pelan lantas berkata, “aku pengen coba deh.”


***


“Aduh, susah banget cara mainnya.”


Aku pun meyakinkannya, “Kamu pasti bisa kok.”


Tak sabar, lantas aku menyontohkannya gerakan melompat dengan satu kaki terangkat. Putaran pertama lancar berjalan, kedua, ketiga, dan saking menikmatinya diriku dengan permainan ini, rupanya sekarang jarak tubuhku sudah tak lebih dari 30 cm di atas tanah. Terjatuh bebas karena sebuah batu yang tiba-tiba saja hadir di kotak kedua permainanku.


Hap!


“Kamu gapapa kan?” 


Dengan terbata-bata, karena masih terkejut dengan kejadian barusan, aku mengindahkan pertanyaanya. 


“Beneran loh?” Ia menghela napas sebentar dan melanjutkannya dengan bukti dari rasa percayanya padaku. “Ya sudah, aku anggap beneran gapapa, ya.”


Kami pun saling tatap sejenak. Sejenak itu lah di mana rasanya perutku sesak oleh ribuan mariposa, dengan tabuhan tempo cepat di dalam dada, dan senyum yang merekah seindah bunga matahari di pagi hari. Aku senang dapat menatap mata indahnya yang dulu hanya menjadi angan. Dan sekarang kami sedang berada di dunia kami. Bersama-sama menjelajahi suasana baru, tatapannya yang teduh seolah memintaku untuk terus menyelam semakin jauh.


Jujurly kamu aneh.”


Ia mengangkat alisnya penasaran.


“Tapi aku suka orang aneh.”


Senyumnya membuat mataku lagi-lagi terpana.


“Tapi aku juga takut.”


“Takut kenapa?”


“Aku takut hal yang tak baik terjadi.”


“Maksudnya?”


Aku menundukkan pandanganku, “Aku takut kehilanganmu.”


"Tenang saja. Semoga tidak ada kata pisah di antara kita, ya."


Kujawab dengan anggukan singkat dan senyum getir. Aku tak yakin, tapi aku berharap hal yang sama.




—Sabtu, 30 Oktober 2021 pukul 10.24

ditulis dalam beberapa waktu terpisah. hari yang tertera adalah waktu di mana bagian pamungkas cerita diselesaikan.

No comments:

Post a Comment

aku adalah peran figuran

what i listened to while i read this panggilan sayang pegangan tangan perhatian rasa aman dan nyaman berbagi es krim kesukaan berteman bisa ...