Monday, February 28, 2022

kelas sejarah

what i listened to while i read this

aku menyandarkan diri pada sebuah kursi di sudut ruangan. kelas sejarah tengah berlangsung khidmat dengan pak guru sebagai narator utamanya. derasnya udara pendingin ruangan yang mengalir lurus padaku membuat tubuhku bergidik. napas berat mengiringi tangan kanan yang kujulurkan untuk menjawab pertanyaan singkat si bapak. atensi penuh dari satu kelas diberikan secara cuma-cuma sepersekian detik kemudian. pak guru mempersilakanku untuk mengeluarkan isi pikiran ini dengan pointer yang digenggam oleh jari-jari tangan kirinya. beberapa menit kugunakan untuk menjawab, yang dibalas anggukan setuju dan ucuran tepuk tangan dari kawan seisi ruangan. semua kepala yang tadinya diarahkan padaku kini telah kembali pada pemimpin diskusi di kelas ini, yakni pak guru. 


begitulah keseharianku. tapi ada bagian kecil yang belum aku ceritakan dari keseluruhan cerita duduk di kelas sejarah itu. 


sebelum memasuki kelas, yang perlu diketahui bahwasannya kami menerapkan kelas berpindah, maka kami, aku dan teman-teman mesti menunggu sejenak agar kelas benar-benar kosong dari siswa kelas lain. dinamisnya pergerakan warga sekolah menjadi pemandangan harianku di sekolah ini. beberapa kali kulipat senyum simpul dengan menyapa tiap nama teman yang berjalan di depanku. beberapa dari mereka membalasnya dengan riang, sisanya memperlihatkan wajah letihnya usai seharian penuh menerima banyak materi ilmu pengetahuan. hal tersebut sudah kumaklumi. lift yang terbuka dan tutup memuntahkan juga melahap guru yang silih berganti rupa. pada jam-jam tertentu para petugas kebersihan juga hadir di antara kami untuk memastikan kehigienisan lingkungan sekolah.


tapi kali ini pemandangnan unik di deapnku menyita perhatian. rinai hujan yang dipadukan dengan terangnya mentari di siang hari menghasilkan bau tanah lembut memasuki indra penciuman siapapun yang merasakannya. beberapa sudut sekolah pun indah dihiasi segaris pelangi hasil dispersi cahaya oleh sang tirta. kupejamkan mata sejenak. tak sadar rasa tenang hadir. rasa syukur yang raksasa atas sesuatu yang sesederhana ini mengingatkanku atas keagungan-Nya. 


namaku disebut dari jarak semeter. kelas telah berganti penghuni dan separuh lebih dari teman kelasku telah menyiapkan diri di bangku masing-masing. menyisakan aku dan sahabat sejawat perempuanku yang sedari tadi menunggu temannya yang sibuk sendiri dengan petrichor. aku pun mengikutinya laiknya sang anak ayam mengekor pada induknya. saat kumasuki ruangan, pak guru juga tengah berjibaku di hadapan papan tulis dengan menekan dan menggulirkan layar presentasinya. aku memberinya salam dengan timbal balik yang ceria. atau setidaknya perlu kukatakan, “harus ceria”. yang pasti, ia merupakan guru terhebat atas seluruh tanggung jawab yang ia ampu pada kedua bahunya. sebagai bentuk hormat, aku berusaha sebisa mungkin untuk meringankan bebannya dengan tidak melakukan hal yang menambah bebannya. ya, semoga kalian paham.


bangku-bangku kosong di bagain belakang kelas dipersembahkan langsung untuk kami yang bukan merupakan pendatang awal masa pergantian kelas. walhasil aku dan temanku duduk terpisah 2 bangku meski kami berada di satu barisan yang sama. sebuah laptop keluaran apple kukeluarkan  dari ransel sebagai amunisi untuk menyerap ilmu sejarah yang akan diwariskan oleh bapak pengajar kami. kusatukan kedua tangna unutk bermunajat kepada Sang Pencipta, berharap akan kemakmuran dan hidup yang sejahtera, lantas diakhiri kata amin sebagai penanda akan dimulainya kelas ini.


konsentrasiku penuh pada penjelasan bapak guru di tengah-tengah ruangan. ia bercerita tentang sesuatu. banyak hal adalah bentuk dari kata sesuatu itu. aku tak dapat mengingatnya penuh karena jujur saja, aku akan berbicara ketika aku memang beanr-benar memiliki kewajiban untuk berbicara. selain itu, berbicara menurutku hanya akan menyisakan rasa sesal. oh tidak, bukan sesal, melainkan ia akan menjadi ibu dari anak-anak pikiran di malam sebelum lelap. aku akan mempertanyakan harga dari kata-kata yang kulontarkan pada hari itu. apakah ucapanku membawa kebaikan, berbau netral, atau tidak ada sama sekali faedahnya? 


ruangan penuh oleh pikiran dan kosongnya suara dari teman-teman. semua terdiam selagi guru kami melaksanakan amanahnya. mereka menampilkan berbagai gaya belajarnya di kelas ini. ada yang melipat tangannya serius dengan tatapan lurus, adapun yang tertunduk lemas terlampau keras rasa kantuknya. sedangkan aku, seperti yang telah kalian tahu, kurgangkan punggung dan menyamankan posisi diri pada kursi abu berukuran sedang ini. 


tatapan jahil beberapa teman lelaki kadang terlayangkan, dan pastinya tertangkap basah olehku, di tengah-tengah keberlangsungannya kelas. mereka adalah yang kusebut teman. benar, hanya teman. aku tak ingin memberi juga menerima hati mereka. aku sadar akan kemampuanku yang belum mumpuni, atau singkatnya aku belum siap, untuk merasakan jatuh hati. sebab di dalam hidup terdapat sebuah keseimbangan di mana rasa senang akibat jatuh hati kelak akan menghasilkan patah hati yang sama besarnya. aku masih terlalu muda untuk menangisi seorang pria. jadi kuputuskan, aku akan terus melajang selama tidak ada yang berani datang pada orangtuaku dan meminta izin secara langsung untuk menjagaku di masa depan dengan segala jaminannya. aku tahu ini mungkin terlihat mustahil bin tidak mungkin. tapi Tuhan tahu yang terbaik.


oke, kembali ke kelas sejarah.


kelas kami berlangsung sampai toa masjid mengumandangkan tanda masuknya ibadah ashar. setelah doa penutup dipanjatkan oleh seluruh isi kelas, ruangan ini menghamburkan sebagian besar siswa yang haus akan kenyamanan asrama. menyisakan sedikit dari mereka yang masih memiliki keperluan lain di sekolah.


tamat. begitulah separuh dari keseharianku di sekolah. sebenarnya itu hanya gambaran 2 jam pelajaran yang kujabarkan singkat berdasarkan sudut pandangku yang juga sempit. maksudku, aku tidak seaktif si pemilik kursi depan, pun sediam anak meja tengahan. aku hanyalah aku yang berusaha sekuat mungkin untuk menyeimbangkan kecepatan belajar otak para teman jeniusku di sekolah ini. dan semoga gambaran singkat ini dapat memberi manfaat, setidaknya pelajaran sederhana buat kalian semua pembacaku tercinta. selamat hari ini dan sampai jumpa lagi.




—Minggu, 28 Februari 2022 pukul 13.26

No comments:

Post a Comment

aku adalah peran figuran

what i listened to while i read this panggilan sayang pegangan tangan perhatian rasa aman dan nyaman berbagi es krim kesukaan berteman bisa ...