what i listened to while i read this
manik mataku tak sedetikpun terlepas dari parasnya yang rupawan. kacamata yang tersangga hidung mancung itu menambah kesan baiknya padaku: pintar, atau setidaknya rabun itu disebabkan oleh kebiasaannya membaca dan belajar. sesekali aku berpikir,
‘suatu saat mungkin tak akan ada lagi perasaan semenggebu ini.
suatu saat mungkin tak akan ada lagi kesempatan untuk dapat bercengekerama sedekat ini.
suatu saat pula, pastinya, kita akan terpisahkan entah oleh jarak, waktu, atau bahkan lebih jauh lagi, mati.’
ia mengelus lembut tangan kananku yang berada di atas meja sembari bertanya, “kamu mikirin apa, kok sampai melamun gitu?”
sebelum menjawab pertanyaannya, aku melepas genggaman itu untuk menukarnya dengan sebuah dekapan erat yang aku kalungkan ke tubuhnya.
‘tapi aku tak akan lagi berencana tentang sesuatu yang tak dapat aku kendalikan. selagi ada, aku akan terus pecaya bahwa kita akan dapat selalu bersama. aku akan nikmati tiap detiknya, kebersamaannya, senyumnya, dan semua tentang kita berdua.’
“aku sayang banget sama kamu,” jawabku beberapa saat kemudian.
tangannya sekarang bergerak ke pucuk kepalaku untuk memberikan tepukan pelan. “makasih. aku sayang kamu juga.”
‘mungkin bila semua aku pahami, mungkin rasa ini tak menarik lagi. hidup dan segala misterinya, bolehkan kuterjang denganmu?’
—Senin, 27 November 2023 pukul 19.19 WIB
No comments:
Post a Comment