what i listened to while i read this
bumi ini bulat. tidak bersudut, tidak berakhir. ya, mungkin tembok surau pembatas kawasan putra-putri yang bisa menahanku untuk terus berjalan. ya, masa, aku berjalan melayang ke kawasan pria? kan, malu.
tanganku menengadah siap menerima segala yang diberikan Tuhan. eh, tidak juga, sih. aku sukanya request sebenarnya. walau di akhir nanti aku bubuhkan, “tapi yang terbaik dari-Mu saja, YaRabb.” embel-embel saja biar tidak terlihat jelas betapa repotnya hamba yang satu ini. hehe.
***
suatu hari yang cerah, cukup menyengat bagi tangan halusku yang sudah kulumuri losion anti-gosong, mata yang sudah kusipitkan untuk menahan cerahnya sang surya ini menelisik tiap sisi pemandangan. pada perjalanan menuju masjid pelbagai latar aku lewati. gedung-gedung yang didirikan sepanjang jalan mengandung bermacam-macam suasana. bahkan beberapa di antaranya menggabungkan latar waktu yang berbeda karena teringkasnya jarak jauh antartokoh di dalam genggaman gawai. adapun taman kosong yang juga ajeg menawarkan sejuknya rumput hijau untuk disinggahi. oh iya, jalannya tidak semulus muka artis korea. banyak gronjalan, meliuk kanan-kiri, kadang ada tanjakan, dan sebagainya. sedikit melelahkan, menyenangkan, ya, gado-gado campur aduk.
***
anak panah ini siap melesat membelah jutaan atom di udara untuk mencapai sasaran di depan mata. tinggal tarik, dan,
“perhatikan sikumu!” ujar pria bertopi putih di sebelahku.
aku mendengus kesal karena tegurannya memecahkan fokus. tapi aku tetap mengindahkannya dengan memperbaiki posisi tangan.
“oh iya,” sekarang ia membuka pebicaraan. sungguh, aku senang berbicara dengannya--tapi tidak untuk kali ini. “gimana perasaanmu tentang kejadian kemarin?” yang benar saja! ia mengatakan itu sedetik sebelum aku melepaskan anak panah dan sekarang sang harapan tak sampai pada tujuan.
ingin kusumpal mulutnya.
“bisakah kamu diam? atau setidaknya, jangan membahas hal itu, lagi?”
“kukira kamu senang.”
“sayangnya perkiraanmu salah.”
“kenapa salah?”
“karena … tidak benar.” ujarku sambil berlalu mengambil anak panah yang tengah bersembunyi di balik semak-semak.
seperempat jam berlalu dan benda yang kucari belum juga ketemu. orang yang tadi berbicara denganku sekarang menyusul dan ikut mencari dari sisi lainnya. dirogohkannya tangan yang dibalut sarung tangan itu ke dalam kumpulan daun dan ranting yang menghasilkan tangkapan jackpot.
“kalau butuh bantuan, bilang, ya.”
mataku mengerling malas padanya, “ya.”
—Munggu, 6 November 2022 pukul 14.04
No comments:
Post a Comment