Saturday, September 7, 2024

andai dia tahu

what i listened to while i read this

“sekarang aku tahu kenapa aku tidak lagi suka padamu,” panasnya siang bolong menyengat kulit; menjadi latar percakapan terakhir kami kala itu. tak ada badai ataupun hujan deras yang membuat kesedihan bertambah. malahan, pemandangan hamparan taman di depan yang memasuki musim semi menjadi saksi perpisahan kami.


alisnya tertautkan menyiratkan seribu tanya pada pernyataanku.


“ke mana tujuan kita setelah ini?” tanyaku.


tangannya meraih telepon pintar di depannya masih dengan menatapku, “pulang. mau pesan gojek sekarang?”


aku menggeleng pelan sambil menunduk. sedih rasanya mengetahui bahwa sekarang ada lebih banyak alasan yang bisa memperkuat kepergianku. rasanya seperti tiba-tiba saja mendapat tsunami. ke mana aku selama ini, kenapa baru menyadari hal ini? ‘dasar budak cinta yang buta,’ cercaku pada diriku yang malang.


“ke mana tujuan kita setelah ini? mau dibawa ke mana hubungan kita setelah ini?” 


bibirnya terkatup dan terus begitu selama tujuh detik setelahnya. sekarang ia turut menunduk. entah tengah mencari jalan keluar atau mengheningkan cipta, aku tidak bisa membaca dengan jelas air mukanya. begitupun keadaan kami sekarang.


jelas sudah. ketidakpastian adalah jawabannya. 


sayangnya, titik toleransi tiap orang berbeda. untuk kali ini, aku tidak kuat lagi menerimanya.


kursi panjang berdecit pelan saat aku bangkit dari duduk. kemudian, aku berjalan menjauh darinya. pelan-pelan, saat aku berbalik badan, semburat sosoknya pudar sampai di saat bayangannya tak lagi kentara. 


sepertinya siang telah berganti malam. udara dingin menusukku yang tak lagi mengenakan jaket sebab telah kuberikan padamu pada hari pertama kita bertemu. meski susah, aku melanjutkan perjalanan; berusaha tetap berjalan sejauh yang aku bisa. biarlah masa lalu kami tak lagi dapat diterka. biarlah saja, untuk saat ini, kami sama-sama mencari jawabannya meski tak lagi bersama.


sesungguhnya rasa sayangku amatlah besar. inginnya aku sendiri yang mengarahkan, menjelaskan, dan menjawab pertanyaan itu. beribu skenario menyenangkan kita berdua sudah terbenam di dalam kepala untuk benar-benar diindahkan. bisa saja aku mengajakmu jalan ke desa, memetik bunga liar sepanjang jalan, lalu menghitung berapa orang yang mengenakan batik selama di sana. tapi kalau kamu saja tidak mau menerima pertanyaanku sekarang, ya, buat apa lagi aku berharap kamu berkenan jadi tokoh utama di mimpi-mimpi indahku kelak? siapakah kamu di masa depanku kelak? nggak tahu? ya, sama, jawabanku juga “tidak tahu.”


untuk itu, mari kita cukupkan pertemuan kita kali ini. 

terima kasih karena sajiannya lezat dan mengenyangkan. pertemuan ini menyengankan. aku senang. 

senang bisa bertemu denganmu.

senang bisa mengenalmu.

senang jadi temanmu.

senang.

sayang.

aku sayang kamu.

sayangnya kisah ini harus berlalu.

sayang sekali, ya, kita hanya bisa menabung rindu.

kapan lagi kiranya kita dapat bertemu? 

tidak tahu.

selamat mencari tahu.



—Sabtu, 7 September 2024 pukul 16.57 WIB 

No comments:

Post a Comment

aku adalah peran figuran

what i listened to while i read this panggilan sayang pegangan tangan perhatian rasa aman dan nyaman berbagi es krim kesukaan berteman bisa ...