Tuesday, January 2, 2024

suatu hari, sendiri

what i listened to while i read this



aku menatap jendela yang menampilkan puluhan kendaraan berlalu lalang. gerimis telah dimulai lima menit yang lalu. daripada beranjak pulang sebelum episode selanjutnya, yakni hujan betulan, dimulai dan menghalangi perjalananku, aku malah memperbaiki posisi duduk untuk mencapai kenyamanan duniawi ini. lantunan lagu sendu ditambah buku favoritlah yang dari tadi menemani. biasanya di saat seperti ini aku akan menghampiri pinto dan buru-buru memakai alas kaki. kemudian, kubiarkan diri berputar-putar menyerupai tornado sambil menatap langit, minta dimandikan air hujan. dari jauh mama akan bersandar di bingkai pinto sambil memasang kamera di tangan, siap mengabadikan momen indah yang akan jadi kenangan. 


aduh, rindunya.


mari kembali ke hari ini. aku sedang berada di restoran korea saat segerombol orang secara berkala memenuhi ruangan. lantai dua yang tadinya senyap seketika tak dapat dihalau keramaianya. menyadari bahwa tempat ini adalah ruangan publik (dan aku bukan cucu pemilik resto yang bisa seenaknya mengusir orang), tidak ada response yang aku berlian untuk perubahan suasana. sedikit gelak tawa tidak akan mengganggu kegiatanku. toh aku juga tidak begitu memperhatikan mereka.


setelah beberapa saat, salah satu dari para pengunjung yang baru saja aku bicarakan menghampiriku. tangan kirinya menyangga lengan kanannya yang sudah memegang gawai. meski tidak begitu mendengar arahannya, beberapa detik usai kulepaskan earphone aku sempatkan untuk mengobservasi sekeliling. benar saja bahwa para wanita muda yang tadinya ramai berjajar sekarang telah siap dalam posisi piramida, siap untuk difoto. 


asyik juga ikut andil dalam pengabadian momen makan-makan ini. apalagi ketika mereka yang kusangka adalah para pengguna-aktif-media-sosial-jutaan-pengikut-karena-imejnya-yang-bagus memberikan mimik muka aneh atas kesepakatan bersama. ada yang menjadi siluman babi, si mata juling, kera sakti, muka ikan kembung, dan sebagainya. hal ini mengingatkanku tentang hangatnya persahabatan yang dulunya aku jalin dengan seseorang.


“kita foto, yuk, di depan sini,” tangannya menunjuk tulisan besar yang menunjukkan identitas gedung akbar yang termasyhur.


kami pun mengambil beberapa gaya andalan, seperti dua jari kedamaian, senyum formal ala foto kartu identitas, dan pastinya gaya aneh untuk kelak dikenang dan ditertawakan. 


namun sepertinya hari itu tidak akan ada lagi. sekarang kami telah berpisah karena satu dua hal yang tak bisa beanr-benar menampilkan titik cereal. jadi, ya, mari berharap saja keajaiban terjadi dan setidaknya jalinan pertemanan kami kembali.


“makasih banyak, ya, kak!”


gamsahabnida~” salah satu dari mereka berterima kasih dalam bahasa korea yang diikuti cekikikan teman-temannya. 


aku hanya tersenyum manis dan mengangguk; mengaminkan. setelah itu aku kembali ke tempatku untuk duduk di depan jendela.


kembali menghadap jalanan, aku menatap kososng pemandangan.  


kalau waktu bisa diputar, akan kah aku berpikir tentang hadirnya hari ini? hari ketika kehampaan adalah teman sejati dari diri. bahwasannya kesendirian adalah saat yang tepat untuk merasa bebas dan puas, daripada harus bergantung pada keberadaan manusia lain yang pasti akan hengkang suatu saat. menelan sedih sendiri, merayakan senang sendiri, mencapai target sendiri. ya, tanpa ekspektasi.




—Selasa, 2 Januari 2024 pukul 14.33 WIB

No comments:

Post a Comment

aku adalah peran figuran

what i listened to while i read this panggilan sayang pegangan tangan perhatian rasa aman dan nyaman berbagi es krim kesukaan berteman bisa ...