Tuesday, August 6, 2024

selamat pagi, cinta

what i listened to while i read this


pagi ini aku bangun subuh dan membaca sebuah buku, seperti biasa. kemudian, menunggu pukul tujuh pagi datang, aku terlelap sejenak. tidurku ringan di dalam angan, seperti berselimutkan awan dan permen kapas manis yang siap membuat siapa saja yang merasakannya tersenyum meringis. dibangunkan oleh bunyi burung hantu dari telepon pintar, suara denting notifikasi pesan juga datang menyertai. meski setengah kesadaranku masih di udara, aku menatap layar redup tersebut. sebuah figur yang familiar tampil sebagai pengirim ucapan selamat pagi paling manis seantero jagad. aku tersenyum simpul sambil meletakkan kembali benda itu, berharap aku bisa bangun dari mimpi indah ini. setelah beberapa saat aku mendekatkan lagi handphone itu. ternyata bukan mimpi. pria itu adalah entitas nyata, paling kukagumi sepanjang masa, dan sekarang namanya bahkan sedekat genggaman tangan. ah, indahnya perasaan jatuh cinta.




—Selasa, 6 Agustus 2024 pukul 21.01 WIB

Sunday, July 7, 2024

pahami aku

what i listened to while i read this


aku ingin pergi. bukan karena aku tak suka. aku hanya tak sanggup terus terpana akan semua pesona sembari menerima secara cuma-cuma cinta darimu yang mungkin saja fana. 

aku ingin pergi. bukan karena aku sudah bosan. aku hanya takut kalau kita mungkin takkan sampai di tempat tujuan sesuai harapan. 

aku ingin pergi. bukan karena aku merasa tersakiti. aku hanya tak ingin membuatmu selamanya menjadi antagonis di dalam logikaku meski kamulah penyejuk sejati dari sanubari ini. 

aku ingin pergi. bukan karena aku lebih memilih berhenti daripada jalan terus meski sama kamu. aku hanya tak sampai hati kalau di tengah jalan nanti kamu merasa direpoti ketika aku tidak waras lagi. 


aku ingin pergi. aku ingin pergi karena aku benar-benar cinta padamu. biarkan aku pergi. kalau kamu benarlah peduli, biarkan aku pergi.




—Minggu, 7 Juli 2024 pukul 21.13 WIB

Thursday, February 15, 2024

bernada

what i listened to while i read this


sekarang, tiap kali aku mendengarkan merdu suara dere dimainkan dari gawai atau pun MacBook, hadirmulah yang secara tiba-tiba muncul di kepala. beberapa sajak perpisahan dan kenangan juga menautkan diri pada sosokmu, seolah-olah kamulah sumber idenya. salahku, sih, sepertinya, keadaan jadi begini. seharusnya begitu dan tidak seperti ini, kan? tapi, ya, mau bagimana lagi.


bingung, ya? sama, kok, aku juga bingung. 


sebenarnya, apa, sih, yang aku pikirkan? apa yang aku harapkan waktu itu? masa depan apa yang aku sedang perjuangkan? banyak. jawabannya ada banyak dan bisa jadi esai 3000 kata untuk menjabarkannya. namun, kamu tidak perlu tahu semua. tidak penting. 


kembali ke pertanyaan tadi. aku tak henti-hentinya bertanya hingga seseorang hinggap di kursi depan mejaku dan menjentikkan jarinya. netra yang sudah berada sepuluh centimeter di depannya mengerjap cepat—mengembalikanku ke dunia nyata. 


“mikirin apa, sih, sampai melamun kayak gitu?” tanya pria berkacamata itu, orang yang sama yang membuatku terkejut lima detik lalu.


aku mengalihkan pandangan ke layar di depan sambil menaruh daguku ke kepalan tangan yang siap menyangga, berharap gelagatku untuk menutupi overthinking dapat tertutupi dengan sempurna. 


“masih sedih karena dia?” kata terakhir itu ia beri penekanan dan jawabannya adalah sebuah anggukan lemas.


akan kuceritakan, siapakah dia yang saat ini tengah sama-sama ada di benak kami.


***


waktu itu adalah hari keempat bulan desember. satu hari penuh aku habiskan bersama anak-anak sekolah dasar yang tergabung dalam projek sosial. digagas oleh aku dan empat teman lainnya, projek sosial merupakan sebuah gerakan untuk membangun masyarakat yang peduli akan beberapa aspek tertentu seperti sosial budaya, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. pastinya dibutuhkan keberlanjutan untuk benar-benar menciptakan revolusi signifikan dari usaha tersebut. pertemuan kami pada hari tersebut adalah yang keempat kalinya sekaligus yang terakhir. oleh karena itu, tanpa kenal lelah seluruh energi kami kerahkan untuk menyukseskan hari-H. 


jam analogku berkata bahwa sekarang sudah pukul dua belas siang; projek sosial telah berakhir. kami pun pulang membawa peluh dan keluh akibat rasa lelah. sebelum kembali mendaki puluhan tangga menuju kamar, aku berbelok ke koridor kiri dan memasuki ruang pembina. laporan dan pengumpulan handphone selesai dalam beberapa saat sebelum tragedi terjadi.


aku pun melanjutkan perjalananku ke lantai tiga asrama putri mars. setelah sempurna menyandarkan punggung di kursi depan meja belajar, aku membuka WhatsApp sejenak untuk menemukan fakta bahwa kamar obrolanku dengan Mami kosong. kontak teratas itu tidak lagi menyimpan percakapan yang kami lakukan selama beliau hidup. tak ada yang lebih menyesakkan untuk kuhadapi pada hari itu, bahkan untuk seumur hidupku, untuk mendapati perasaan kehilangan yang mendalam. 


bahuku berguncang seiringan dengan air mata yang berkucuran keluar dari kedua sudut mataku. 


“setidaknya kemarin hanya hal itulah yang menjadi mengingatkanku bahwa Mami tidak pernah jauh. sekarang percakapan kami benar-benar hilang. sekarang aku benar-benar kehilangan Mami.”


untuk kesekian kalinya orang pertama yang aku ingat untuk kuceritakan tentang masalah ini adalah dia.


sementara teman-teman selantaiku berlalu lalang di belakang, aku meneruskan tangisanku di depan MacBook. sekembalinya aku di dunia nyata, mereka berangsur-angsur menepuk pundakku dan memberi semangat tanpa bertanya banyak. mereka tahu kalau aku bukanlah orang suka dicampuri urusannya. 


“aku bersyukur karena sekarang kamu bisa cerita ke orang. pokoknya kalau ada apa-apa, jangan pernah merasa sendiri lagi, ya. mungkin nggak harus cerita ke aku ataupun teman kamu itu, pokoknya yang penting kamu nyaman aja. nggak baik kalau kamu sakit-sakitan cuma karena pikiran.” salah seorang di antaranya berkata demikian.


tanpa ucapannya barusan, barangkali aku tak akan sadar kalau ternyata aku setoksik itu. barangkali aku tak akan sadar sebesar itulah perhatian teman-temanku. barangkali aku tak akan sadar betapa penting orang yang telah bersedia menerimaku dan segala sampah pikirannya. 


terima kasih. kalian benar-benar berharga.


***


suatu hari di liburan yang seharusnya menyenangkan, salah seorang dari mereka yang kusebut sahabat itu hilang. aku tak bisa berbuat apapun karena aku berprasangka kalau kehilangan ini akan jadi permanen. jadi aku kembali bersedih. 


terima kasih. setidaknya kalian pernah ada. kalian benar-benar berharga.



—Selasa, 2 Januari 2024 pukul 14.33 WIB

aku adalah peran figuran

what i listened to while i read this panggilan sayang pegangan tangan perhatian rasa aman dan nyaman berbagi es krim kesukaan berteman bisa ...